Aplocheilus Panchax

Ikan Kepala Timah atau dalam bahasa Latin disebut sebagai Aplocheilus panchax. Karena ditandai adanya bintik putih dibagian kepala, ada yang menyebut Ikan ini sebagai Ikan Mata Tiga, Ikan Kepala Timah merupakan ikan yang biasa hidup di persawahan. Mereka kerap ditemukan di kolam dan saluran irigasi, kanal, reservoir atau bahkan di daerah mangrove. Mereka lebih menyukai perairan jernih dengan tanaman terapung padat. Ikan Kepala Timah, atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Blue Panchax, selain di Indonesia juga bisa dijumpai di wilayah Asia lainnya seperti : Pakistan, India, Bangladesh, Myanmar, Nepal, Kamboja, Vietnam dan Srilanka.

Morfologi

Blue Panchax termasuk dalam keluarga Aplocheilidae (Killifishes). Mereka mudah dikenali dari bintik putih yang terdapat diatas kepalanya. Karena adanya butiran mirip timah yang melekat di kepalanya, bintik putih ini yang menyebabkan mereka disebut sebagai ikan kepala timah. Kegunaan utama ikan ini adalah sebagai pemakan jentik nyamuk. Ikan ini cukup kecil ukurannya 2,5 – 3 cm, suatu hal yang sangat spesifik kalau kita lihat dari samping mulut berada dibagian atas (superior) dan ini sangat memudahkan pada saat berenang, dia akan dengan mudah memakan jentik-jentik nyamuk.

Meskipun disebut sebagai Blue Panchax, strain yang dijumpai cenderung berwarna kehijauan. Untuk strain ini, warna kebiruan baru akan tampak apabila diberi pencahayaan yang tepat. Dalam akuarium, Blue Panchax dapat menerima pakan kering. Mereka termasuk pendamai, setidaknya mereka tidak akan memakan rekan seakuarimnya selama ukurannya lebih besar dari mulutnya. Blue Panchax adalah perenang atas, dan akan sangat senang bila dalam akuarium diberikan tanaman terapung cukup banyak.

Membedakan jantan dan betina dengan jelas dapat dilakukan pada saat ikan sudah dewasa. Bentuk badan jantan lebih langsing dan warnanya lebih menarik, tubuh jantan biru dengan bibir bawah hitam. sedangkan untuk betinanya memiliki bentuk sirip dorsal dan anal yang lebih bulat (membulat) dengan tubuh yang membulat juga. Blue panchax betina mempunyai karakter lebih agresif, bahkan dapat menyerang jantannya yang dapat menyebabkan kematian sang jantan. Oleh karena itu sebaiknya komposisi dijaga, misal dipelihara 5 ekor jantan dengan 1 atau 2 ekor betina.Pada Yellow Finned Panchax, sirip ekornya kuning dengan ujung hijau dan pinggir hitam atau biru terang.

Lingkungan Hidup

Blue panchax tidak begitu rewel terhadap kualitas air dan mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Mereka hidup pada selang pH 6.0 sampai 8.0, dH 5.0 – 12.0 dan selang suhu 20 -25 C. Ikan ini menyukai perairan tenang yang banyak ditumbuhi tanaman. Ikan ini sangat teritorial, sehingga sebaiknya diberikan tempat yang cukup luas dengan disertai banyak tanaman. Untuk dapat memelihara Blue panchax dengan ikan lain, harus dipertimbangkan bahwa ikan lain tersebut mempunyai ukuran yang lebih besar dari mereka, karena Blue Panchax ini tidak segan-segan akan memakan / melukai ikan tersebut. Menurut beberapa referensi, ikan ini mempunyai rentang waktu hidup 2 tahun.

Pemijahan

Pemijahan jenis ikan ini dapat dilakukan secara masal dengan perbandingan jantan betina 1 : 2-3. Sarang telurnya dapat dibuat dari mop rafia yang dipasangkan di dasar wadah (akuarium atau kolam). Biasanya telur yang dikeluarkan akan dilekatkan di ujung-ujung mop rafia dengan cara digantungkan. Telur-telur tersebut bisa diambil untuk ditetaskan dalam wadah terpisah ataupun dibiarkan bersama induknya hingga menetas dan larvanya bisa berenang. Telur dapat dipelihara bersama induknya karena induk tidak pernah memakan telur atau anaknya.

Biasanya telur akan menetas dalam waktu cukup lama, yaitu 12-16 hari. Larvanya berukuran cukup besar sehingga dapat langsung diberi pakan berupa kutu air saring. Empat hingga lima hari kemudian larvanya sudah bisa diberi pakan kutu air berukuran besar. Sementara pakan untuk ikan dewasa dapat berupa cacing sutera. Pemeliharaan ikan ini sangat mudah karena kondisi tubuhnya kuat dan toleran terhadap kualitas air. Namun, biasanya bisa sedikit merepotkan karena ukuran ikan atau anak ikan untuk satu kali penetasan tidak samaAkibatnya umur telur dan larva menjadi sangat bervariasi. Hal ini disebabkan telur ikan ini dikeluarkan induknya sedikit demi sedikit dalam waktu yang relatif lama. (berbagai sumber)