Bangai Cardinal Fish

Ikan banggai cardinal merupakan ikan laut dengan ukuran kecil, dengan ciri khusus pola yang kontras antara garis-garis hitam dan putih dengan totol-totol putih. Ukuran maksimal sekitar 6 cm panjang baku atau SL (ujung kepala hingga pangkal ekor), dan umur maksimal diperkirakan 2-4 tahun di habitat alam. Kedewasaan seksual tercapai pada ukuran SL (panjang baku) 3.5-4 cm, dan umur sekitar 9 bulan. Sejauh ini diketahui, reproduksi terjadi sepanjang tahun, dengan puncak pemijahan dan pelepasan juvenil pada terang bulan.

Spesies ini sangat mudah dibedakan dari 270 spesies family Apogonidae lainnya karena memiliki rumbai pada sirip dorsal pertamanya, anal memanjang dan sirip dorsal kedua memiliki jari-jari lunak, sirip kaudal bagian dalam bercabang, dan pola warna terdiri dari tiga garis hitam menyilang anal dan sirip dorsal kedua. Jantan dapat dibedakan dengan betina dimana yang jantan memiliki rongga mulut lebih besar, hal ini jelas terlihat pada saat akan mengerami telurnya. Kata genus Pterapogon sendiri berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata Pter yang berarti sirip atau sayap, apo yang berarti jauh/panjang,  gon yang berarti cara memijah (dari cara mengerami telur di mulut).

Keadaan Umum Populasi

Ikan ini pertama kali diidentifikasi di kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, Ikan banggai cardinal memiliki bentuk badan yang tinggi, bulat pipih, mulut besar, sampai melewati garis vertikal pertengahan pupil, memiliki dua sirip punggung yang panjang dan indah. Gurat sisi dari ikan capungan banggai tampak jelas dan lengkap dari tutup insang sampai pangkal ekor.

Klasifikasi
Kerajaan: Animalia
Filum: Cordata
Kelas: Osteichythyees
SubKelas: Actinopterygii
Ordo: Perciformes
Family: Apogonidae
Genus: Pterapogon
Species: Pterapogon kauderni
Nama umum: Bangai Cardinal Fish
Nama Lokal: Capungan Ambon

Ikan banggai cardinal memiliki tingkah laku yang unik pada saat reproduksi, dimana ikan jantan dan betina dewasa yang telah matang gonad akan memisahkan diri dari kelompoknya dan mencari tempat yang cocok dan sesuai untuk kawin. Sebelum sel telur dan sperma dikeluarkan maka mereka akan melakukan beberapa gerakan unik yang dikenal dengan “matting dance” dimana ikan jantan akan bergerak berputar mengelilingi betina dan sebaliknya.

Di wilayah tropis, ikan banggai cardinal bereproduksi sepanjang tahun selama adanya kecukupan makanan. Pterapogon kauderni merupakan spesies yang memiliki keunikan karakteristik reproduksi sehingga sangat rentan apabila dieksploitasi secara berlebihan, dikarenakan.

  1. fekunditas rendah
  2. memelihara telur dan larva dalam mulut induk jantan
  3. perkembangan langsung
  4. periode inkubasi di dalam mulut lama
  5. tidak memiliki fase planktonik
  6. juvenile berada pada habitat induk

berdasarkan hasil survei tahun 2004 total populasi alam ikan banggai cardinal diduga 2,4 juta ekor, dimana 90 % berada di 29 pulau di Kepulauan Banggai. Berdasarkan survey di tujuh lokasi, sebagian besar lokasi memiliki densitas ikan banggai cardinal 200-700 ekor/ha dengan rata-rata 0,07 ekor/m2. Sedangkan di kawasan lindung (teluk kecil di sebelah barat daya Kepulauan Banggai) mempunyai densitas 0,25-1,22 ekor/mdengan rata-rata 0,63 +0,39 ekor/m(Lunn & Moreau, 2004).

Habitat Penyebaran

Pteropogon kauderni ditemukan di willayah Barat Pasifik dan keberadaan populasinya terbatas pada 27 pulau di Kepulauan Banggai dan Sulawesi Tengah di Pelabuhan Luwuk. Sebagian kecil juga terdapat di Selat Lembeh (Sulawesi utara, Indonesia), sekitar 400 km utara kepulauan Banggai. Cakupan jarak alami spesies ini maksimum timur-barat sekitar 130 km dan utara-selatan sekitar 70 km, dan luasan keseluruhan sekitar 500 km2. Spesies ini berada pada kedalaman 0,5-4,5 m, tetapi umumnya ditemukan pada kedalaman 1,5 m sampai 2,5 m.

Ikan hias banggai cardinal belum banyak dikenal oleh masyarakat nelayan di Indonesia karena penyebarannya yang sangat terbatas yaitu hanya terdapat di Pulau Banggai, Sulawesi Tengah bagian timur sehingga sering disebut ikan apogon Banggai. Pertama kali ditemukan oleh Koumans pada tahun 1993. Termasuk ikan air laut berukuran kecil, panjang standar mencapai 6,5 cm. Ikan ini umumnya hidup di daerah terumbu karang yang dekat dengan padang lamun dekat pantai pada kedalaman kurang dari 3 meter dan hidup berasosiasi dengan bulu babi atau Diadema dan anemon.

Ikan banggai cardinal tergolong jenis ikan yang bersifat teritorial yaitu menempati suatu wilayah secara permanen, pergerakannya yang pasif dimana sebagian besar hidup berkelompok menempati duri-duri dari bulu babi dan sebagian kecil hidup berasosiasi dengan anemon sehingga penyebarannya terbatas di daerah sekitar dimana mereka berada sebelumnya.

Ikan banggai cardinal adalah jenis apogonid yang karakteristik hidupnya berbeda dengan apogonid lainnya, dimana jenis ikan hias ini memiliki keunikan dalam daur hidupnya, kelimiahannya yang khas, serta satu-satunya dari family Apogonidae yang diurnal, karena jenis lainnya adalah nokturnal. Ikan ini merupakan pemakan plankton, yang sebagian besar memakan makanan melalui media copepod dan beberapa crustacea lainnya. Mereka biasanya juga ditemukan berasosiasi dengan anemon, karang bercabang, bulu babi, bintang laut dan akar mangrove. Densitas ikan hias ini juga behubungan positif dengan densitas bulu babi.

Pteropogon kauderni juga sering hidup bersama dengan ikan dan udang yang berada pada anemon. Selain itu seringkali apabila ada ditemukan bulu babi, juga terdapat beberapa genera ikan kardinal ditempat tersebut. Ikan ini merupakan sumber makanan penting bagi beberapa spesies seperti Pterois (Scorpaenidae), Epinephelus merra (Serranidae), Cymbacephalus beauforti (Platycephalidaemorenas), Echidna nebulosa (Muraenidae), Synanceia horridaLaticauda colubrina (Elapidae).

Nilai Penting Perlindungan

Adanya kemungkinan capungan banggai masuk dalam list species yang tidak boleh diperdagangkan (Appendiks CITES) dan  status ikan BCF dalam Red List IUCN, memunculkan pemikiran untuk budidaya dalam jumlah masal dengan menerapkan teknologi budidaya modern. Inisiatif timbul untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin tinggi sementara stok alam berkurang. Hal ini sebenarnya kurang menguntungkan bagi masyarakat Banggai. Masih ada kesempatan dan dukungan internasional bagi bangsa Indonesia untuk tetap memanfaatkan BFC sebagai komoditi ekonomi jika tata kelola pelestarian dan pemanfaatkan bisa kita lakukan dengan baik.

Salah satu bentuk tata kelola adalah dengan melakukan pembatasan penangkapan ikan banggai cardinal berdasarkan ukuran dan lokasi. Dengan adanya perlindungan terbatas, keendemikan dan kelestarian ikan banggai cardinal diharapkan akan tetap terjaga. Spesies endemik capungan banggai adalah identitas masyarakat Banggai, dengan terjaganya nilai keendemikan ikan banggai cardinal maka identitas masyarakat banggai pun tetap terjaga. Oleh karena itu, hak milik komunal masyarakat Banggai terhadap BCF harus diperjuangkan dan diakui baik level nasional maupun internasional.

Status jenis ikan dilindungi secara terbatas pada ikan banggai cardinal secara langsung akan meningkatkan nilai ekonomi dan ekologi pengelolaan sumber daya perikanan Banggai Cardinal Fish. Disisi lain manfaat ekonomi ini otomatis akan meningkatkan kesadaran untuk memelihara habitat dan ekosistem terumbu karang dimana BCF hidup.

Urgensi Perlindungan

Populasi BCF di alam menurun drastis, diduga penurunan populasi ini dikarenakan penangkapan yang berlebihan atau adanya degradasi habitat BCF. Penangkapan berlebihan bisa diartikan adanya permintaan pasar yang semakin meningkat. Pola pemanfaatan yang masih bergantung sepenuhnya pada tangkapan alam mengakibatkan adanya tekanan terhadap populasi dan juga habitat BCF.

Lembaga konservasi dunia (IUCN) yang menyusun kategori dan daftar merah terhadap suatu spesies yang memiliki resiko tinggi terhadap kepunahan, telah memasukan ikan hias jenis Pterapogon kauderni ke dalam daftar merah (red list) dengan kategori spesies yang terancam punah (EN). Ikan ini telah memenuhi kriteria IUCN pada bitir B2ab (ii, iii, iv, v) yaitu cakupan daerah keberadaanya kurang dari 500 km2, yang meliputi :

  1. Keberadaanya tidak lebih dari 5 lokasi
  2. Penurunan terus berlangsung, berdasarkan cakupan keberadaan, kualitas habitat, jumlah lokasi atau sub populasi dan jumlah individu dewasa.

Berdasarkan Pasal 23 Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan, kriteria jenis ikan dilindungi meliputi :

  1. Terancam punah
  2. Langka
  3. Endemik
  4. Terjadinya penurunan populasi di alam secara drastis
  5. Tingkat reproduksi rendah

Dari kriteria tersebut diatas, ikan banggai telah memenuhi beberapa kriteria untuk ditetapkan statusnya menjadi jenis ikan yang dilindungi secara terbatas dengan tetap memperhatikan aspek pemanfaatan yang lestari dan berkelanjutan. Oleh karena itu dipandang perlu untuk segera menetapkan ikan banggai cardinal sebagai jenis ikan yang dilindungi. (berbagai sumber)