Cone Snail Yang Mematikan

Cone-Snail1Keong kerucut (Cone Snail) adalah hewan laut yang mempunyai racun teramat kuat, semburan racunnya dapat membunuh lebih dari 20 manusia dewasa sekaligus. Ukuran dari keong racun bervariasi di mana yang terbesar ukurannya bisa mencapai 20 cm lebih. Spesies yang besar umumnya ditemukan di perairan hangat yang dangkal dengan topografi berpasir atau berbaru-batu. Dapat ditemukan di seluruh dunia dan mencapai keragaman terbesar di Indo-Pasifik, termasuk di Indonesia.

Bila anda menjumpainya saat menyelam atau menemukannya terdampar di pantai saat berjalan jangan menyentuh atau memungutnya. Bentuknya memang indah dan sepintas sangat tidak lah berbahaya. Tapi jangan salah, dengan racun dari sengatnya (ujung pangkal mulutnya) yang bisa ditembakan, dapat membunuh hanya dalam waktu 4 menit.

Saking hebatnya, Pakaian selam tidak dapat memberikan perlindungan dari serangan racun binatang ini. tembakan panahnya bisa menembus baju Selam yang tebal sekalipun. Saat hewan ini mengggigit Saraf–saraf akan menjadi malfungsi, korban akan jatuh kedalam keadaan “beku” dimana tak ada otot yang bisa di gerakan. Saking dashyat nya, racun binatang ini di kembangkan oleh CIA untuk senjata pelumpuh.

Mayoritas hidup dengan memakan cacing & siput laut, sementara sebagian kecil spesiesnya yang berukuran besar & banyak ditemukan perairan hangat Indo-Pasifik hidup dengan berburu ikan. Karena cara bergeraknya yang lamban, kita mungkin bingung bagaimana hewan ini menangkap mangsa seperti ikan yang bisa bergerak cepat & bebas. Jawabannya adalah, siput ini bisa melumpuhkan mangsa dengan memakai racunnya.

Ada 2 organ dalam yang penting bagi siput ini untuk berburu : kelenjar racun & kantung penghasil radula, semacam jarum kecil yang dipakai sebagai “anak panah” berburu dengan ujung yang lancip & bergerigi. Mula-mula, radula dari siput akan dialirkan ke semacam belalai di depan kerongkongannya sambil dilumuri dengan racun dari kelenjarnya. Hal selanjutnya yang perlu dilakukan siput adalah mencari mangsanya dengan mendeteksi zat-zat kimia terlarut dalam air. Belalai penembaknya selalu berada dalam keadaan terisi radula sehingga saat sedang tidak berburu sekalipun, siput ini selalu siap memakai radulanya untuk mempertahankan diri. (berbagai sumber)