Emperor Tetra

Emperor Tetra Tampilannya biasa saja, namun beberapa hobies akuaris di mancanegara memberinya gelar kaisar. Palmeri memanglah tidak seanggun Discus, juga tidak segagah Arwana. Sosoknya seperti ikan umumnya. Ukuran optimal yang bisa dicapai cuma 5,5 cm. Yang menarik “trisula” di ekornya itu bukan hanya untuk menyerang musuh. Tetapi cuma untuk variasi dari wujud sirip ekor. Serta tersebut satu diantara keunikan sebagai daya tarik Palmeri sbg ikan hias air tawar. Diluar itu pesona Palmeri terdapat pada wujud serta warna tubuhnya.

Bila kita amati, sirip-siripnya mempunyai satu keunikan, Palmeri tdk memiliki “Adipose fin”, yakni sirip tambahan yang terdapat pada sirip ekor serta sirip punggung. Namun sirip duburnya memanjang hingga pangkal ekor. Hampir seluruh siripnya berwarna sama, yakni kuning muda kecoklat-coklatan dengan jari sirip depan berwarna hampir hitam. Badannya seakan-akan terbagi dua oleh garis hitam yang memanjang hingga ke cagak tengah sirip ekor. Sisi bawah lebih gelap di banding sisi atas. Sepintas, tubuh Palmeri terkesan didominasi warna coklat. Walau sebenarnya, warna ini adalah gabungan pada coklat, kuning, serta biru. Diluar negeri ikan Palmeri banyak ditemukan di daerah aliran sungai San Juan, Columbia.

Palmeri, pertama kali diketahui oleh Carl Eigenmann pada th. 1911. Tetapi, baru pada th. 1960 ikan ini diorbitkan sbg ikan hias. Sehari-hari “Sang Kaisar” ini hidup pada suhu pada 22-240C. Namun bila kawin ia butuh suhu, lebih kurang 26-28 0C.

Pemijahan di Akuarium

Palmeri terhitung ikan tidak produktif. Tetapi bukan hanya artinya ia tidak dapat dikawinkan. Pada prinsipnya, Palmeri bisa memijah walau diluar lingkungan alam aslinya. Seandainya seluruh kriteria untuknya dipenuhi. Palmeri memijah seperti umumnya ikan tetra yang lain. Telurnya ditempatkan pada rumput tanaman air. Rutinitas ini lah yang kerap dimanipulasi oleh beberapa pembudidaya ikan hias, dengan langkah ganti tanaman air asli dengan yg palsu. serta juga kerap dibuatkan sejenis rumbai-rumbai dari benang nylon atau tali rapia.

Syarat pertama yang perlu dipenuhi apabila akan mengawinkan Palmeri yaitu mengetahui dengan cara pasti induk jantan serta betina yang siap untuk dipijahkan. Pekerjaan ini pastinya tdk terlampau sukar, induk jantan tak hanya cagak tengah ekornya lebih panjang, juga ukuran badannya semakin besar dibanding betina.

Bila pemijahannya dikerjakan di akuarium, cukup kita siapkan akuarium memiliki ukuran : 50 X 20 X 20, air yg dipakai mesti jernih (bersih), lunak serta sedikit asam dengan pH lebih kurang 6, 4-6, 8, dan kesadahannya lebih kurang 20 – 50 ppm. Pemijahan berjalan di antara kerimbunan semak-semak belukar tanaman air. Karenanya, akuarium butuh di beri tanaman air untuk area pemijahannya. Yang paling pas, yaitu type Myriophyllum. Jadi, tanaman air ini disamping untuk menyusup pada saat kejar-kejaran, juga untuk letakkan telur. Pemijahan ini berlangsung jika suasananya tenang serta cahayanya redup. Seekor induk betina yg baik, dapat bertelur sejumlah 50-100 butir.

Sinyal tanda pemijahan sudah berjalan jika telah tampak telur-telur Palmeri melekat pada tanaman atau berserakan di basic akuarium. Demikian pemijahan selesai, ke-2 induk segela diangkat. Telur-telur umumnya menetas sesudah 48 jam (pada suhu 280C). 1 hari lalu, larvanya telah tampak menggantung atau melekat pada tanaman air. Baru pada hari ke 4 atau 5, benih Palmeri telah bisa berenang dengan bebas. Usia 1 minggu, benih dapat di beri makan infusoria. Minggu selanjutnya di beri makanan yg ukurannya semakin besar seperti artemia atau dapnia.

Seperti halnya ikan tetra yang lain, Palmeri ini juga banyak di minta oleh beberapa eksportir ikan hias. Lihat prospek yg cukup baik, mungkin tak ada salahnya bila kita mulai membudidayakan ikan hias ini dengan cara intensif. (aquariumhias)