Ikan Batak (Neolissochilus thienemanni)

Ikan batak (Neolissochilus thienemanni), memang hanya ada di tanah batak Sumatera Utara. Ikan endemik ini distribusi habitatnya di sungai sungai kecil di daerah Tapanuli Utara dan Simalungun, terutama sungai kecil yang bermuara ke Danau Toba. Saat ini, jangan berharap ikan ini dapat ditemukan di Danau Toba, karena berdasarkan informasi nelayan dan penduduk di sekitar Danau Toba, ikan batak sudah sangat sulit ditemukan di danau tersebut.  Bahkan menurut mereka, sudah lama sekali nelayan tidak mendapatkan ikan ini. Ikan batak masih dapat ditangkap di sungai sungai kecil yang bermuara di Danau Toba, itupun sudah semakin langka.

Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan batak adalah jala, jaring dan bubu. Biasanya ikan yang tertangkap tidak mereka konsumsi, melainkan dipelihara di kolam atau sawah di sekitar sungai untuk dibesarkan. Ikan baru akan dikonsumsi jika ada upacara adat atau ”upa upa” atau jika ada orang yang hendak membelinya. Harga ikan batak sangat mahal, untuk 1 ekor ikan hidup dengan berat lebih kurang 100 g atau ukuran panjang total sekitar  21 cm  dijual seharga Rp. 50.000.

Ikan batak sekilas mirip sekali dengan ikan jurung, semah, kancra atau ikan dari Marga Tor. Perbedaannya, pada ikan batak terdapat 10 baris pori-pori yang tidak teratur (masing-masing memiliki tubus atau titik yang keras) pada masing-masing sisi moncong dan di bawah mata serta alur dari bagian belakang sampai ke bibir bawah terputus di bagian tengah.

Jenis ikan dari keluarga Cyprinid ini di alam hidup di sungai yang berarus deras terutama di daerah dataran tinggi yang berpasir dan berbatu. Kondisi tersebut juga sangat perperan dalam proses memijah ikan batak. Berdasarkan pengamatan, pada gonad ikan batak terdapat ukuran telur yang bermacam-macam, hal tersebut menunjukkan bahwa ikan batak dapat memijah sepanjang tahun terutama di musim hujan.

Fekunditas ikan dengan ukuran 212 mm, berat 88,50 g mencapai 765 butir dengan diameter telur berkisar antara 1cm-2,5 cm. Pelestarian ikan batak di alam perlu mendapat perhatian karena nilai ekonomis dan sosial ikan tersebut sangat tinggi di masyarakat. Kearipan lokal yang ada pada masyarakat harus tetap dipertahankan, di samping dengan tetap menjaga habitat alaminya di alam agar tidak rusak sehingga ikan batak tidak punah di tanah batak. (bp3ulitbang)

2 Responses

  1. Jojo Subagja says:

    ada koreksi Dari artikel di atas untuk diameter telur ikan batak bukan cm satuannya tapi mm di dalam artikel tertulis diameter telur berkisar antara 1cm-2,5cm. itu ukuran telur burung puyuh….
    yang menurut pengamatan kami untuk ikan batak diameter telur yang ovulasi berkisar antara 2,6-2,9 mm.untuk ikan Tor soro 2,8-3,0 mm dan Tor Tambroides antara 3,0-3,3 mm. semoga bermanfaat.

  2. Jojo Subagja says:

    Agan YTH, sebagai informasi saja, di Samosir ada Balai Benih Ikan (BBI) Ambarita kepunyaan Dinas Perikanan Provinsi Sumatera Utara, disana kami sudah pernah ngasih training pada Desember 2015 yang lalu, untuk pemijahan ikan batak dari indukan yang sudah dikoleksi, anakan yang diperoleh lumayan banyak. dan sekarang para petugas BBI sudah mulai terampil cara breeding nya. mudah mudahan benih hasil BBI dapat di restoking ke D Toba. Sebagai kepedulian Kami dari Balitbang KP pernah beberapa kali melalkukan restoking dari benih ikan yang sama hasil produksi di Bogor.