Ikan Lemuru

Bila kita menyebutkan nama ikan lemuru kepada masyarakat awam, mungkin mereka tidak akan tau bahkan bisa bertanya-tanya ikan jenis apa lemuru itu?. Hal itu wajar karena dikalangan masyarakat ikan ini dikenal dengan nama lain setelah dilakukan proses pengolahan misalnya dengan sebutan ikan pindang atau biasa dikenal dengan nama sarden. Padahal bahan utama yang digunakan adalah ikan lemuru.

Lemuru ( Sardinella Lemuru) menghuni perairan tropis yang ada di daerah Indo-Pacific. Menurut Whitehead ( 1985), ikan ini merupakan habitat yang menghuni suatu daerah dengan area yang luas yaitu di sebelah timur samudra india, yaitu. Pukhet, Thailand, pantai selatan di jawa timur dan Bali, Australia barat, dan samudera pasifik ( dari Pulau Jawa sebelah utara sampai Filipina, Hong Kong, Taiwan bagian selatan dan Pulau Jepang). Di sebelah tenggara pulau Jawa dan Bali, konsentrasi ikan Lemuru sebagian besar berada di Selat Bali. Dalam versi Inggris, ikan ini disebut Bali sardinella.

Ciri-ciri morfologinya adalah sebagai berikut:

1. Badannya bulat panjang dengan bagian perut agak membulat dan sisik duri agak tumpul serta tidak menonjol.

2. Warna badan biru kehijauan pada bagian atas (punggung),putih keperakan pada bagian bawah.

3. Pada bagian atas penutup insang sampai pangkal ekor terdapat sebaris bulatan-bulatan hitam sebanyak 10 -20 buah.

4. Siripnya berwarna abu-abu kekuning-kuningan

5. Warna sirip ekor kehitaman demikian juga pada ujung moncongnya

(Dwiponggo,1992)

Lemuru sering ditemukan berenang dalam kelompok besar, dekat permukaan laut tidak jauh dari pantai (pesisir). Ikan ini dilengkapi dengan tapis insang (gill rakers, sisir insang) untuk menyaring makanannya. Lemuru diketahui memangsa plankton (fitoplankton dan zooplankton), terutama kopepoda. Ikan ini terkenal rakus makan plankton. Uniknya, pertumbuhan panjang badannya tidak secepat pertambahan bobot badan. Dalam ilmu perikanan, pola pertumbuhan ini disebut positive allometric. Bobot badannya sudah naik banyak, tapi panjang badannya hanya bertambah sedikit.

Menurut para peneliti, kerakusan lemuru terhadap fitoplankton dan zooplankton ini menyebabkan ikan ini kaya kandungan omega-3, salah satu jenis lemak tak jenuh yang diyakini punya banyak manfaat buat kesehatan.

Indonesia sebetulnya punya beberapa jenis sarden. Sebut saja Sardinella longiceps, Sardinella sirm, Sardinella leigaster, dan Sardinella clupeoides. Nama-nama ini merupakan produk tangkapan yang berasal dari Pulau Seribu, Pekalongan, Tegal, dan Pelabuhan Ratu. Hanya saja populasinya relatif kecil sehingga kalah ngetop dengan lemuru selat Bali.

Di tempat hidupnya di perairan Selat Bali, ikan ini punya banyak sebutan. Jika ukuran badannya masih mungil (sekitar 10 cm), ia dipanggil semenit atau sempenit. Jika beranjak remaja dan panjang badannya sekitar 12 cm, dijuluki protolan. Pada saat dewasa, ketika mencapai 15 cm, disebut lemuru, tanpa embel-embel. Kalau lebih bongsor lagi, dipanggil lemuru kucing.

Selama siang hari gerombolan ikan padat ditemukan dekat dengan dasar perairan, sedang pada malam mereka bergerak ke lapisan dekat permukaan membentuk gerombolan yang menyebar. Sekali -kali kadang gerombolan Lemuru ditemukan di atas permukaan selama siang hari ketika cuaca berawan dan gerimis. Bagaimanapun, secara normal sulit untuk menangkap ikan tersebut dengan cepat. Penangkapan secara normal dapat dilakukan selama malam hari ketika ikan pindah/ bergerak dekat dengan permukaan air.

Lemuru bali terutama ditangkap secara musiman, yakni mulai pada awal musim penghujan di sekitar Selat Bali (bulan September – Oktober) hingga akhir musim di bulan-bulan Februari hingga Maret. Puncak penangkapan berlangsung sekitar Desember – Januari.  Di luar musimnya, lemuru ini seolah-olah raib begitu saja; namun diduga bahwa ikan-ikan ini berpindah ke lapisan perairan yang lebih dalam. (berbagai sumber)