Ikan Red Nose

Ikan Red Nose merupakan ikan dari Amerika Selatan, nama Latinnya Hemigrammus bleheri dengan tubuh pipih, panjang dan ramping dengan warna tubuh mengkilap keperakan. Ciri khas ikan ini adalah warna merah disekitar mulutnya sampai sebatas tutup insang. Pada ikan jantan, warna ikan terlihat lebih merah dan jelas dibandingkan dengan betinanya. Pada pangkal ekor terdapat tiga bercak hitam yang berselingan dengan warna putih. Ukuran tubuh betina lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan. Ikan ini senang berkelompok dan berenang aktif pada kolom air serta menyukai media hidup yang mempunyai intensitas matahari tinggi. Panjang tubuhnya dapat mencapai 5 cm dan mulai matang gonad pada betian pada umur 5 bulan.

Ada 3 jenis Red Nose dengan nama latin dan ciri fisik yang agak berbeda.

Petitella giorgiae

Perbedaan Visual :

1. Batasan warna merah : warna merah melewati insang hanya pada H. bleheri. Namun, warna ini tidak permanen.

2. Bercak hitam pada batang ekor : ketiganya memiliki bintik hitam kecil di atas batang ekor (bagian tipis sebelum ekor), tetapi hanya kedua jenisHemigrammus yang juga memilikinya di bagian bawah.

3. Garis tepi warna hitam pada dasar sirip anus : gelap pada P. georgiae, bercahaya pada H. rhodotomus, dan tidak terlihat pada H. bleheri. 

4. Garis tengah kearah ekor : luas (dan tipis) pada P. georgiae, menyempit pada H. rhodostomus, dan tidak terlihat padaH. bleheri.

5. Belang pada ekor : lebar pada P. georgiae, sempit pada spesiesHemigrammus. Warna putih sedikit pada H. rhodostomus.

Hemigrammus rhodostomus
Hemigrammus bleheri

Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk ikan red nose ini memerlukan tanaman air yang berguna untuk membantu proses peneluran indu.  Wadah yang digunakan bisa berupa akuarium. Pakan yang diberikan berupa cacing dan chu merah beku atau hidup dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari. Ikan ini menyukai kondisi air yang bersuhu rendah (dingin). Ikan ini juga menyukai kondisi air yang bersih dan terfiltrasi dengan baik. Penggantian air sebaiknya dilakukan secara parsial dalam kurun waktu tertentu. Jangan merubah kondisi air (suhu, kimia air, dan lainnya) secara drastis. Apabila kondisi tempat tinggalnya tidak cocok, biasanya akan terlihat dari warna merah pada kepala (hidung) yang memudar (pucat). Suhu optimal bagi ikan has ini adalah 26°C

Pemijahan

1. Pemijahan Secara Masal

Pemijahan secara masal dilakukan dalam akuarium ukuran cm dengan jumlah 100 pasang induk. Induk dimasukkan pada sore hari secara bersamaan. Pada dasar akuarium dipasang breeding trap agar telur tidak dimakan induk. Breeding trapadalah saringan yang diberi bingkai yang luasnya sama dengan dasar akuarium pemijahan.

Ikan ini biasanya memijah pada malam hari menjelang pagi. Pagi hari sebaiknya dikontrol apakah induk telah memijah atau belum. Telur dapat terlihat dengan cara menyorotkan lampu neon dibawah akuarium. Apabila terlihat banyak telur segera pindahkan induk ke tempat lain. Telur dapat dipelihara diakuarium pemijahan atau dipindah ke akuarium penetasan dengan cara penyifonan.

2. Pemijahan Secara Berpasangan

Pemijahan secara berpasangan dilakukan dalam akuarium ukuran cm. Induk yang dipakai berjumlah 500 pasang, yang dibagi dalam beberapa kelompok pemijahan. Pada setiap kelompok pemijahan dikawinkan sebanyak 100 pasang dengan selang waktu pemijahan antar kelompok adalah satu minggu.  Air untuk pemijahan biasanya telah disiapkan beberapa hari sebelumnya. Sebagai media peletakan telur di beri eceng gondok yang telah dicuci bersih.

Dalam pemijahan ikan red nose betina dimasukkan terlebih dahulu, menyusul jantan. Biasanya ikan akan memijah pada pagi hari dan setiap induk akan menghasilkan sebanyak 200 butir telur. Pengontrolan telur dilakukan pada hari ke dua, ke tiga dan ke empat dari waktu pencampuran induk. Induk yang telah memijah, dipindahkann ke akuarium pemeliharaan induk.

Penetasan Telur

Akuarium pemijahan sekaligus berfungsi sebagai wadah penetasan telur.Untuk mencegah pembusukan telur dan serangan jamur, maka ke dalam wadah ditambahkan Methylene Blue 1mg/l air. Telur akan menetas sekitar 18 jm setelah pemijahan. Pemeriksaan telur yang telah menetas atau belum dapat dilakukan dengan cara menggoyang-goyangkan eceng gondok secara perlahan. Pemeriksaan dapat dibantru dengan lampu senter, bila terdapat larva maka eceng gondok segera dipindahkan

Pendederan

Larva yang baru menetas biasanya dipindahkan dan disatukan dalam akuarium yang lebih besar untuk didederkan. Akuarium yang digunakan berukuran cm. Cara memindahkan larva adalah dengan menuangkan akuarium pemijahan dalam akuarium pendederan. Cara lain dengan menyifon larva dengan selang kecil ke wadah berupa baskom, kemudian dituangkan ke akuarium pendederan. Tinggi air akuarium pendederan sekitar 35 cm.

Pemberian pakan ke larva berupa nauplii Artemia mulai dilakukan pada hari ke empat setelah menetas, dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari. Pergantian air dilakukan setelah larva berumur 10 hari sebanyak 10% dilakukan 3 hari sekali.

Setelah benih berumur 15 hari dapat dipindahkan ke tangki fiber volume 1000 liter yang disertai dengan peyortiran ukuran ikan. Ke dalam setiap tangki diisi ikan sebanyak 3000 sampai 4000 ekor. Kegiatan peyortiran dilakukan setiap 2 minggu. Benih diberi  pakan berupa kutu air (Daphnia, Moina), nauplii Artemia, dan cacing rambut sebanyak 3 kali sehari. Setelah benih mencapai ukuran 1 inchi atau sekitar 2,5 cm maka benih siap jual.

(berbagai sumber)