Paracheilinus Nursalim

Paracheilinus Nnursalim adalah spesies ikan yang baru, ditemukan di Indonesia pada tahun 2006 ini,  disebut juga ikan flasher. Paracheilinus nursalim ditemukan dalam ekspedisi Rapid Assessment Program (RAP)  Conservation International di  Papua Barat, Indonesia pada 2006 (Kawasan FakFak/Kaimana)

Pejantan biasanya melakukan ritual cumbuan mengagumkan di mana warna ‘elektrik’ berpijar secara periodik untuk mendapatkan perhatian betina di dekatnya. Tarian cumbuan dilakukan setiap siang menjelang sore, dimulai satu jam sebelum matahari terbenam dan terus hingga senja.

Mulut dan bibir yang mengalami modifikasi menjadikan ikan dapat makan, bernafas dan melekat kepada permukaan dengan menyedot. Pengasuhan ikan dewasa terhadap telur-telur mereka, Laki-laki tidak kimpoi kemudian pergi meninggalkan betina, namun berkembang lebih baik di mana pejantan dewasa biasanya menjaga telur dan kadang larva ikan.

Spesies itu dinamai istri keluarga Anggota Dewan CI, Enki Tan, yakni Cherie Nursalim. Mereka sempat menjadi donatur Head Seascape Bird, lembaga prioritas global untuk konservasi laut.

Paracheilinus-Nursalim1Ikan ini memiliki warna paling spektakuler dibandingkan dengan semua penghuni terumbu karang lainnya. Namanya diperoleh dari perilaku percumbuannya yang unik. Ikan jantan tiba-tiba memancarkan warna neon listrik sambil menegakkan siripnya untuk menarik ikan betina.

Jenis ikan yang dilelang ini dianggap ikan flasher paling mengagumkan dari 16 spesies yang diketahui. Ikan ini ditemukan di Bentangan Laut Kepala Burung bagian selatan, dari Raja Ampat ke Teluk Triton.

Spesiesnya hanya dikenal dari daerah Kepala Burung di Papua Indonesia, dan sangat sedikit yang diketahui dari spesies ini baru dijelaskan. Namun, mengingat habitat air yang mendalam dan ukuran kecil, dan kehadirannya di daerah perlindungan laut dalam kisaran terbatas, ia terdaftar sebagai Least Concern.

Habitat Spesies ini mendiami daerah semi-terlindung mengekspos ke arus kuat periodik. Hal ini selalu dikaitkan dengan puing-puing lereng bertahap pada kedalaman mulai dari sekitar 5-50 m atau lebih, tetapi yang paling melimpah antara 20-35 m. Hewan ini dimasukkan dalam daftar merah IUCN.