Snakeskin Barb

Snakeskin Barb (Puntius rhomboocellatus) merupakan ikan cantik yang sudah jarang ditemukan keberadaannya. Ikan dalam keluarga barb ini, tersebar di pedalaman Kalimantan, Indonesia terutama di sungai-sungai seperti sungai Kapuas, Kepayang, Barito dan Kahajan.

Habitat yang dihuni biasanya berupa rawa-rawa yang terhubung dengan sungai-sungai kecil yang banyak ditemukan di kawasan hutan. Keadaan airnya keruh cokelat kehitaman akibat pembusukan material organik yang disertai pelepasan asam humat dan zat kimia lainnya. Kandungan mineral air di habitat asli ikan ini hampir tidak ada dengan pH minimal 3-4. Selain itu, Hutan hujan akan menutupi sebagaian besar permukaan sungai dan hanya sedikit permukaan sungai yang menerima sinar matahari

Istilah pada nama rhomboocellatus diperoleh dari pola yang berada pada tubuh ikan ini. Rhombo berarti jajaran genjang sedangkan ocellatus berarti mata, ini menunjukkan bahwa pola pada ikan menyerupai mata karena warna pola yang berbeda. Snakeskin barb mempunyai warna tubuh orange kemerahan dengan pola yang menyerupai mata berwarna hitam pada garis terluar dan kemerahan pada bagian dalam. Semua sirip ikan termasuk bagian ekor berwarna transparan yang tersamar warna merah. Ukuran ikan ini kecil dengan panjang tubuh sekitar 88 mm atau 3,5 inchi.

Snakeskin barb muda mempunyai warna tidak secantik ikan dewasa, mereka berwarna keperakan dengan punggung sedikit berwarna merah dan pola yang berwarna pucat. Di aquarium, snakeskin barb merupakan ikan yang peacefull dan cocok bila di campur satu tangki dengan ikan lain seperti Danio, Puntius, Rasbora, loach dan gourami. Selain itu, Snakeskin barb merupakan ikan yang berkelompok, dan dalam aquarium dianjurkan untuk dipelihara dalam jumlah 8-10 ekor. Ikan ini bersifat omnivora, di alam mereka memakan cacing, crustacea, beberapa material tanaman dan kepingan organik lainnya. Di aquarium, mereka dapat menerima makanan apapun karena tidak pilih-pilih makanan. Untuk memperoleh kondisi terbaik dan warna yang bagus, dapat diberi makanan hidup atau beku seperti bloodworm, artemia dan daphnia.

Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Actinopterygii
Order
Cypriniformes
Family
Cyprinidae
Genus
Puntius
Species
Puntius rhomboocellatus

Proses pemeliharaan dapat dilakukan di tangki dengan ukuran 45cm x 37.5cm x 30cm untuk kenyamanan ikan. Setting tangki dapat dibuat menyerupai habitat asli seperti cahaya yang tidak terlalu terang, aksesoris akar, batang atau daun tanaman, dan substrat yang berwarna gelap. Beberapa tanaman air Asia yang dapat bertahan di kondisi ini juga dapat ditambahkan seperti Microsorum pteropus (Java fern), Taxiphyllum barbieri (Java moss) dan Cryptocorynes. Usahakan agar turbulensi filter tidak terlalu bergelombang. Temperatur air tangki dapat dijaga pada 23-280C dengan tingkat keasaman mendekati netral pada pH 5-7. Ikan ini termasuk ikan yang sangat aktif namun tidak agresif dan membutuhkan air berkualitas sangat bagus.

Snakeskin barb jantan dewasa mempunyai kecenderungan lebih kecil dibanding betina, selain itu juga nampak lebih langsing dan berwarna lebih menyolok dibanding betina. Untuk membreeding, siapkan tangki dengan ukuran 30cm x 20cm x 20cm. Kondisi pencahayaan harus samar-samar dan tersedia tanaman berdaun baik seperti Java moss sebagai tempat ikan meletakkan telur. Pada bagian dasar tangki diberi jala kecil yang ukuran mesh nya cukup besar untuk menangkap telur ikan yang jatuh dan mesh yang cukup kecil untuk induk mencapainya. pH air tangki harus bersifat sedikit asam sampai netral dengan temperatur disetting diatas sedikit suhu tangki pemeliharaan. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, pilih pejantan yang berwarna bagus dan betina yang keliatan penuh telur, dan pisahkan mereka ke tangki breeding pada petang hari. Mereka akan bertelur setelah pagi hari dengan telur yang terkumpul pada tanaman. Indukan harus segera dipindahkan setelah bertelur karena indukan akan memakan anakan ikan. Telur akan menetas sete;ah 24-36 jam dengan anakan ikan baru akan bisa berenang pada hari ke 3 atau 4. Anakan ikan yang baru menetas diberi makanan kecil seperti infusoria, sampai mereka mampu untuk menerima makanan seperti daphnia atau Arthemia nauplii. Penggantian air dalam jumlah kecil sekitar 10-20% harus sering dilakukan sampai anakan ikan berusia 3-4 bulan. (zonaikan)