Spotted Climbing Perch

Ikan ini benar-benar menakjubkan, Ctenopoma acutirostre adalah ikan dengan mata yang besar. Ikan ini adalah bagian dari keluarga Anabantidae. Ikan ini masih berkerabat dengan ikan betik yang hidup di Indonesia. Berasal dari daerah Basin Kongo, Afrika. Dapat tumbuh hingga mencapai ukuran 15 cm. Ciri-cirinya ikan ini memiliki moncong yang panjang, mulut besar, mata besar, dan duri-duri kecil di punggungnya. Tubuhnya berwarna putih dengan bitik-bintik bulat berwarna hitam kecokelatan seperti macan tutul.

2

Ctenopoma acutirostre

Ctenopoma acutirostre membutuhkan banyak ruang untuk bersembunyi, perlu disediakan gua-gua sebagai tempat persembunyian. Mereka adalah ikan karnivora, pakan untuk ikan ini bisa berupa pelet, cacing darah, atau ikan kecil. Karena memiliki mulut yang besar, maka jangan memelihara ikian ini bersama ikan lain yang lebih kecil. Saat berburu, ikan ini menunggu mangsanya yang lengah lalu membuka mulutnya lebar-lebar sehingga mangsa terisap oleh mulutnya lalu menelannya bulat-bulat. Ikan ini mampu menelan mangsa yang besarnya 1/3 ukuran tubuhnya.  ikan ini ktif selama siang dan malam hari dan bersifat pendamai terhadap spesies ikan yang lain asal ukurannya sama.

Family: ANABANTIDS
Species: Ctenopoma acutirostre
Common Name: Spotted Climbing Perch
Size: Up to 6 inches (15 cm)
Habitat: AFRICA: Sluggish streams of the Congo river basin.
Min Tank Size: 55 gallons.
Diet: Carnivorous, will eat flake frozen and live foods.
Behavior: Peaceful to most other large fish, can be aggressive to its’ own kind. Will hunt and eat smaller fish.
Water: Temperature 68 to 77°F (20–25°C) pH range: 6.0 – 8.0; dH range: 5 – 12

Dalam posisi berburu, ikan yang badannya berbentuk oval ini menekuk ekornya hingga ikan ini berbentuk seperti daun sehingga mangsanya tidak menyadari kehadirannya.  Mulut mereka adalah salah satu hal yang paling menarik karena mereka membuka begitu luas dan cepat sehingga mangsa mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Saatakan bereproduksi ikan laki-laki menampilkan duri pendek pada insang sedangkan yang betina tidak. Salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap proses reproduksi adalah tangki yang harus ditata dengan baik dan besar. Suhu harus ditingkatkan, setidaknya 26 ° C. Air harus sangat lembut dan sedikit asam.