Danau Sentani

Danau Sentani di Papua terletak antara 20.33 hingga 2041 LS dan 1400.23 sampai 1400 38 BT. Berada 70 – 90 m diatas permukaan laut. Terletak juga diantara pegunungan Cyclops. Merupakan danau Vulkanik. Sumber airnya berasal dari 14 sungai besar dan kecil dengan satu muara sungai, Jaifuri Puay. Diwilayah barat, Doyo lama dan Boroway, kedalaman danau sangat curam. Sedangkan sebelah timur dan tengah, landai dan dangkal, Puay dan Simporo. Disini juga terdapat hutan rawa di daerah Simporo dan Yoka. Dalam beberapa catatan disebutkan, dasar perairannya berisikan substrat lumpur berpasir (humus).

Luasnya sekitar 9.360 Ha dengan kedalaman rata rata 24,3 meter. Pada perairan yang dangkal, ditumbuhi tanaman pandan dan sagu. Disekitaran danau ini terdapat 24 kampung, tersebar dipesisir dan pulau-pulau kecil yang ada ditengah danau. Danau Sentani merupakan danau terbesar di Provinsi Jaya Pura. Lokasi bersejarah ini, menawarkan suasana yang luar biasa. Masih adanya beberapa Bangau dan Elang yang bisa kita liat saat akan menyambar seekor ikan di danau Sentani. Anda pun disediakan sebuah perahu jika ingin mengelilingi danau tersebut.

Di Sentani juga terdapat tugu Jendral Douglas Mc Arthur peninggalan Perang Dunia II. Di sebelah utara monument Mc Arthur, pada ketinggian 325 meter terdapat dataran pegunungan Cyclop dengan puncak Gunung Dofonsoro. Daerah ini sangat indah dan dahulu kala tempat ini merupakan pangkalan pertahanan Mc Arthur.

Asal mula terjadinya danau Sentani dikisahkan melalui tarian keeping yang dimainkan oleh sekitar 40 orang berkostum khas Papua. Hanya dengan sebuah harta karun berupa gelang Kristal (Heba), dan tiga biji manik-manik yang dalam bahasa suku Sentani disebut dengan Hawa, Hae dan Naro. Ondofolo (Kepala Suku) Walli bersama kerabatnya Hoboy, membeli air di penguasa pegunungan Robonsolo (Sekarang Cycloop) bernama Dobonay pada masa lalu, untuk meminta air bagi rakyatnya. Ondoafi Wali dan Hoboi hidup di atas satu bukit yang disebut Yomokho di Kampung Donday, Sentani. Di atas bukit ini tidak ada air sebagai sumber kehidupan, maka Ondofolo bersama Hoboy naik ke Gunung Robonsolo untuk menghadap Dobonai, penguasa air dengan membawa sejumlah harta karun untuk membeli air.

Cerita berawal ketika masa lalu terjadi bencana kekeringan yang melanda seluruh daerah Sentani, dan berdampak pada kehidupan rakyat Sentani. Tak menunggu lama, Ondofolo langsung mengajak Hoboy untuk pergi membeli air keabadian (air yang tak pernah berhenti mengalir) kepada Dobonay di Gunung Robonsolo. Air itupun dibeli dari Dobonay, yang pada saat itu pembayarannya dilakukan kepada kedua anak Dobonay, yakni Bukunbulu dan Robonway. Meski sempat terjadi kesalahan dalam pembayaran, tetapi saat itu permasalah tersebut dapat ditengahi oleh Dobonay. Setelah mendapat air, Ondofolo Wali bersama kerabatnya pulang ke rumah.

Sebelum pamit, Dobonay berpesan agar di perjalanan nanti, jika bertemu hewan jangan diburu. Sebab, jika dilanggar, akan terjadi cobaan bagi mereka berdua. Tetapi karena sifat manusia, aturan tersebut dilanggar, Ondofolo Wali dan Hoboi melupakan pesan Dobonay, justru keduanya memburu seekor hewan yakni burung Kasuari. Sebuah tembakan anak panah dari Haboy berhasil mengenai sasaran, namun alangkah kagetnya kedua manusia itu, sebab burung kasuari tersebut langsung menghilang bersamaan dengan air keabadian yang dibawa oleh keduanya.

Bersamaan dengan peristiwa tersebut, datanglah sebuah air bah dan menghanyutkan semua benda-benda yang berada disekitar tempat tersebut, dan selanjutnya air bah itu membentuk telaga raksasa yang saat ini dikenal dengan Danau Sentani. Kejadian ini harus dibayar mahal dengan tenggelamnya anak Ondofolo Wali. Namun keteguhan dan rasa bertanggung jawab kepada rakyatnya, sang Ondofolo pun sempaty meratap berlama-lama atas kematian anaknya itu.

Namun, dirinya langsung mengajak seluruh rakyatnya untuk secara bersama-sama menyampaikan ucapan syakur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan pemberian telaga raksasa yang terbentang dari Nolobu (Timur) Kampung Yokiwa hingga Waibu (Barat) Kampung Doyo dan sekitarnya yang berada hingga saat ini. Dengan peristiwa ini, Ondofolo Wali menyadari bahwa untuk memperoleh sesuatu yang baik harus ada pengorbanan, sekali pun itu adalah orang yang sangat dicintai. Itulah asal mula terjadinya danau Sentani menurut penduduk sekitar.

Papua memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan juga kaya akan budayanya. Terdiri dari 250 suku dengan bahasa yang berbeda-beda, tetapi semua belum terekspos dunia luar sehingga belum banyak wisatawan yang berkunjung ke bumi cendrawasih ini. Pemerintah Daerah mengambil inisiatif dengan menggelar suatu kegiatan yang diberi nama Festival Danau Sentani (FDS). Festival ini dilakasanakan secara rutin tiap tahun. Festival ini diadakan pertama kali pada tahun 2008.  Festival Danau Sentani ini bertujuan mengangkat dan melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat asli Papua, sekaligus mendukung program pemerintah dibidang kepariwisataan.

Dengan diadakannya Festival Danau Sentani ini, dapat menambah penghasilan bagi masyarakat sekitar secara langsung misalnya dengan menyewakan perahu, menjual pernak-pernik/kerajinan tangan ataupun dengan menjual makanan olahan local. Sedangkan untuk Pemerintah Daerah juga menerima pendapatan melalui pajak penginapan hotel. (Berbagai sumber)

.

5 Responses

  1. ambrita says:

    FDS meMang mnTap sKali tUh tMpat wIsata Yg mNarik sKali tUk oRg pApuA

  2. Bratha Andy (Ajau Faa) says:

    Mantap…. 🙂

  3. Dontex says:

    foi ……… asal usul danau sentani ada,,,, apa ada cerita asal usul gunung siklop 🙂 ???

  4. indohoy says:

    asyik dan seru ya ikut festival gt? jadi makin kompak deh.. 🙂

  5. objek wisata says:

    jadi pengen tau seperti apa festival nya… 🙂