Situ Cisanti

Citarum adalah sebuah nama sungai terbesar di bagian barat Pulau Jawa dari Kepulauan Indonesia. Di sepanjang sungai terdapat tiga buah bendungan atau waduk besar, yaitu Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Bendungan-bendungan tersebut mengumpulkan air untuk pembangkit listrik dan irigasi. Keuntungan tambahan dari bendungan adalah pemeliharaan ikan yang dibutuhkan sebagai komoditi makanan. Situ Cisanti merupakan mata air hulu Sungai Citarum.

Situ Cisanti terletak di kaki Gunung Wayang, Bandung Selatan. Daerah ini memiliki ketinggian sekitar 1.500 hingga 3.000 meter dari permukaan laut. Jika dibandingkan dengan objek wisata lainnya yang ada di Kabupaten Bandung, Situ Cisanti tidak sepopuler Situ Patengan, Situ Cileunca, atau objek wisata lainnya yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti dangau, kedai makan, perahu wisata, dll. Cisanti hanyalah tempat wisata keluarga penduduk sekitar.

Situ Cisanti berada dalam kawasan Perhutani Bandung Selatan, tepatnya di Kampung Pajetan Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Dari ibu kota Kabupaten Bandung, Soreang, jaraknya sekitar enam puluh kilometer arah timur. Menuju objek wisata ini, sejak Jalan Kertasari, sepanjang perjalanan itu akan disuguhi oleh panorama alam dari bukit dan lembah. Kebun-kebun sayuran berpetak-petak seperti anak tangga berderet sampai ke badan bukit, dipisahkan jalan selebar tiga meter yang berkelok-kelok.

Di tepian jalan itu pada waktu-waktu tertentu kita bisa menemukan kelompok petani mengumpulkan hasil panennya seperti wortel, kentang, kol dll, kemudian dinaikkan ke truk untuk diangkut ke pasar. Lepas pandangan ke sebelah utara, hamparan Bandung sesekali terlihat dan sesekali terhalang oleh bukit-bukit tatkala kendaraan yang kita tumpangi sudah mulai mendekati lokasi.

Setelah melewati gerbang retribusi, pengunjung melewati jalan selebar dua meter yang kiri kanannya ditumbuhi pohon kayu putih yang menjulang. Menuju ke arah barat, menuruni beberapa anak tangga sampailah pada irigasi yang mengatur aliran Situ Cisanti. Irigasi yang panjangnya sekira 10 meter dengan lebar 5 meter ini pada temboknya ditulis “Situ Cisanti”.

Meski di hari-hari biasa tempat ini dijadikan objek wisata keluarga sekitar Kecamatan Kertasari, pada waktu-waktu tertentu tempat ini sering didatangi para peziarah dari berbagai daerah, bahkan luar Pulau Jawa. Menurut Dudu Durahman, Kepala Riset Pemangkuan Hutan (KRPH) Wayang-Windu, penyebab objek wisata Situ Cisanti hanya jadi tempat wisatawan domestik karena Situ Cisanti belum dilengkapi fasilitas penunjang seperti pada umumnya objek wisata yang berhubungan dengan air dan wana wisata.

Selama ini Situ Cisanti hanya ramai oleh pengunjung atau sekelompok warga masyarakat menanami ikan, di waktu-waktu tertentu pula ada warga yang menyirib (mengambil ikan dengan jaring berbentuk persegi yang bergagang panjang).

Upaya untuk mendongkrak nilai jual Situ Cisanti sehingga tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan dari luar daerah karena niat berziarah, kata Dudu, Perhutani berencana akan membangun dan menambah fasilitas penunjang seperti sarana bermain anak-anak, dangau, kedai makan, perahu wisata, dan fasilitas lainnya.Yang dianggap unik dan menarik bagi sebagian masyarakat sekitar tentang Situ Cisanti, beberapa cerita yang sampai dari mulut ke mulut tentang fenomena gaib yang konon pernah terjadi di Situ Cisanti.

Cerita itu mungkin diembuskan untuk membumbui suasana alam yang cukup menggambarkan suasana mistis, terutama di sebelah barat Situ Cisanti karena di sanalah letaknya mata air yang menjadi hulu Sungai Citarum itu. Ada tujuh mata air yang dipercaya mempunyai daya keramat oleh sebagian peziarah. Mata air tersebut ialah Pangsiraman, Cikahuripan, Cihaniwung, Cikoleberes, Cikawedukan (Cikadugalan), Ciham-erang, dan Cisanti yang kesemuanya menyatu dalam Situ Cisanti.

Dari ketujuh nama mata air itu, hanya Pangsiraman yang masih terlihat ditata menjadi tempat khusus disediakan bagi peziarah yang ingin mandi atau sekadar wudu, sedangkan mata air lainnya sudah tidak tampak. Menurut salah seorang penjaga tempat ziarah itu, di setiap titik mata air asalnya ditandai, tetapi mungkin kini tanda tersebut sudah tertimbun tanah atau rumput yang tumbuh di tepian situ sehingga tanda itu tidak terlihat lagi.

Pangsiraman yang luasnya hanya sekitar lima meter persegi itu terlihat mata airnya keluar dari bawah pohon beringin yang akar besarnya menjorok berbentuk semacam jembatan kecil yang menjadi tempat pijakan para pengguna air tersebut. Konon Bung Karno (Presiden Pertama RI) dan dua orang rekannya yang dijuluki tiga serangkai itu pernah datang ke Pangsiraman.

(Berbagai Sumber)

1 Response

  1. Shinta hayati says:

    Pengen bget dtang rekreasi ksana deckh