Tandes dan Karang

Setidaknya ada dua kategori orang yang pergi ke laut untuk menangkap ikan yaitu pemancing dan nelayan. Apa beda antara keduanya ? Pemancing hanya akan menangkap ikan seadanya, sedangkan nelayan akan mencari ikan sebanyak-banyaknya untuk mereka jual.

Baik golongan pertama dan golongan kedua, tentunya mereka memerlukan suatu lokasi yang biasa di sebut dengan spot, dimana spot tersebut banyak terdapat ikan. Ada beberapa macam spot untuk mencari ikan  yang merupakan tempat hunian atau “rumah” bagi ikan tersebut, tapi untuk mudahnya kita akan batasi dalam dua kategori utama yaitu tandes dan karang.

Tandes
Apa yang di sebut dengan tandes? Tandes adalah struktur yang lebih keras di dasar laut, jika dibandingkan dengan pasir di sekitarnya. Bayangkan suatu areal yang di dominasi dengan pasir, dan di dekat tempat itu ada batu (karang) yg tertutup dengan pasir. Inilah yang kita kenal dengan tandes.

Besar tandes itu bisa saja hanya sebesar meja makan di rumah kita, atau sebesar lapangan bola. Tapi anggaplah rata-rata besar tandes itu seukuran 10x10m. Untuk ukuran di darat, tentu ini adalah sebuah lokasi yang mudah untuk ditemukan, tapi di laut ceritanya bisa lain sama sekali.

Karang
Karang bisa terbentuk secara alami atau merupakan hasil perbuatan manusia. Karang yang terbentuk secara alami biasanya berada jauh di kedalaman laut. Di sanalah, di sekitar karang itu, merupakan spot favorit ikan-ikan kecil untuk berlindung dan mencari makanan. Ikan-ikan kecil ini pada gilirannya akan mengundang ikan yang lebih besar yang akan memangsa ikan kecil itu. Ikan-ikan yang lebih besar akan mengundang ikan yang lebih besar lagi, dan seterusnya. Demikianlah kira-kira rantai makanan disekitaran karang. Jadi bisa diperkirakan, ikan-ikan predator seperti tenggiri atau alu-alu akan mudah di jumpai di sekitaran karang itu.

Di lain pihak, ada juga karang yang bukan merupakan hasil kerja alami. Misalnya saja sebuah pulau kecil yang di ambil pasirnya secara terus menerus, sehingga pada satu saat nanti, pulau itu akan hilang dan berada di bawah permukaan air. Karang Nirwana di kepulauan Seribu adalah salah satu contohnya.

lalu bagaimana caranya untuk mengetahui spot yang benar-benar potensial untuk menangkap buruan kita ? Tentunya dengan peralatan modern di jaman sekarang ini tidak lagi sulit untuk mengetahui spot tersebut. Berikut beberapa cara dan pengamatan yang dilakukan oleh nelayan dan pemancing untuk mencari spot.

Cara mencari tandes
Baru beberapa tahun yang lalu saja, nelayan mencari tandes dengan cara yang sangat alami. Dengan bantuan pemberat yg di ikatkan dengan kenur, mereka akan menurunkan pemberat itu sampai ke dasar laut. Pemberat ini akan diangkat dan diturunkan berulang-ulang, sampai mereka menemukan dasar laut yang lebih keras dari pasir sekitarnya. Cara ini di kenal dengan istilah “ngelot”. Bisa di bayangkan, berapa banyak tenaga dan waktu yang di butuhkan hanya untuk menemukan tandes ini!.

Dengan bantuan teknologi jaman sekarang, ada satu alat bantu yang bisa menggantikan pekerjaan ngelot ini, yang namanya depth sounder atau sebagian orang menyebutnya dengan fish finder.
Berbekal depth sounder ini, kondisi dasar laut bisa kita lihat secara langsung di layar monitor. Apakah kedalaman laut itu rata atau turun naik bisa terlihat dengan jelas di monitor itu, kita juga bisa sekaligus mengetahui berapa kedalaman laut di spot itu.

Cara mencari karang
Kalau karang itu tadinya adalah pulau seperti yang di sebut di atas, akan lebih mudah mencarinya, karena beda kedalaman laut di sekitarnya yg memberi efek warna kedalaman laut yang juga berbeda. Dengan kata lain, karang semacam ini bisa dengan mudah terlihat dengan mata karena perbedaan warna laut.

Bagaimana dengan karang alami yang adanya di kedalaman laut sana?. Lagi-lagi, dengan bantuan depth sounder akan amat membantu kita menemukan tonjolan atau lekukan karang di kedalaman sana.

Cara lain yang bisa kita pakai adalah dengan melihat peta khusus laut. Dengan berbekal peta ini saja, kita bisa melihat lokasi-lokasi mana saja yang lebih tinggi dari lokasi sekitarnya dan berpotensi menjadi “rumah” bagi ikan buruan kita.

sumber : amarylis-foundation

1 Response

  1. sumitro says:

    baiklah