• -6.153636, 106.792756

Budidaya Ikan Jelawat

Budidaya Ikan Jelawat

Budidaya Ikan Jelawat

Ikan jelawat tidak setenar ikan mas dan nila. Ikan ini hanya dikenal dikalangan tertentu, terutama insan perikanan. Ini wajar, karena ikan ini tidak ditemukan di setiap daerah, atau hanya di daerah asalnya, yaitu Sumatra, terutama Jambi dan daerah sekitarnya, serta Kalimantan. Namun bukan berarti ikan jelawat tidak perlu dikembangkan.

Budidaya ikan jelawat perlu dikembangkan. Karena ikan yang bernama latin Leptobarbus hoevenii ini juga tetap dicari orang, terutama orang-orang yang pernah merasakan dagingnya. Harganya juga cukup menggiurkan dan bisa membawa menguntungkan. Selain itu juga untuk kegiatan pelestarian, karena populasi ini jelawat kini sudah berkurang, akibat penangkapan yang berlebihan dan tidak selektif.

1. Beda jantan dan betina

Beda jantan dan betina dapat dibedakan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Tanda ini akan lebih nampak bila sudah matang gonad atau matang kelamin. Induk betina yang matang gonad bercirikan: perut agak gendut, belakang sirip dada halus, gerakan lamban dan anatara sirip dada kiri dan kanan lembek dan agak melengkung serta lubang kelamin kemerahan. Tanda induk jantan : gerakan lincah, lubang kelamin kemerahan, bila dipijit ke arah lubang kelamin, keluar cairan berwarna putih. Usahakan saat seleksi mengangkap induk jantan dan betina lebih dari satu, sebagai cadangan.

2. Pematangan Gonad

Pematangan gonad ikan jelawat dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 200 m2; keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam, isi air setinggi 50 – 70 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 150 ekor induk ukuran 3 – 5 kg; beri pakan tambahan berupa pelet sebanyak 3 persen/hari, menjelang musim hujan, dosos pakan tambahan ditambah Catatan : induk jantan betina dipelihara terpisah. Pematangan gonad juga bisa dilakukan di keramba dan kolam pagar (fence system)

3. Pemberokan

Pemberokan ikan jelawat dilakukan di bak selama semalam. Caranya, siapkan bak tembok ukuran panjang 4 m, lebar 3 dan tinggi 1 m; keringkan selama 2 hari, isi dengan air bersih setinggi 40 – 50 dan mengalir secara kontinyu; masukan 5 – 8 ekor induk. Catatan : Pemberokan bertujuan untuk membuang sisa pakan dalam tubuh dan mengurang kandungan lemak. Karena itu, selama pemberokan tidak diberi pakan tambahan.

4. Penyuntikan dengan ovaprim

Penyuntikan pada ikan jelawat adalah memasukan hormon perangsang ke tubuh induk yang sudah matang gonad. Hormon perangsang yang umum digunakan adalah ovaprim. Caranya, tangkap induk betina yang sudah matang gonad, sedot 0,6 ml ovaprim untuk setiap kilogram induk, suntikan bagian punggung induk tersebut, masukan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 – 12 jam.

Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,2 ml/kg induk) dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3 dosis total (atau 0,4 ml/kg induk betina). Induk jantan disuntik satu kali, berbarengan penyuntikan kedua dengan dosis 0,2 ml/kg induk jantan.

5. Penyuntikan dengan hypopisa

Penyuntikan ikan jelawat bisa juga dengan larutan kelenjar hypopisa ikan mas. Caranya, tangkap induk betina yang sudah matang gonad, siapkan 2 kg ikan mas ukuran 0,5 kg untuk setiap kilogran induk betina, potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutu insang, potong bagian kepala secara horizontal tepat di bawah mata, buang bagian otak, ambil kelenjar hypopisa, masukan kelenjar hipofisa tersebut ke dalam gelas penggerus dan hancurkan, masukan 1 cc aquabides dan aduk hingga rata, sedot larutan hypopisa itu, suntikan ke bagian punggung induk betina; masukan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selam 10 – 12 jam.

Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,6 kg ikan mas/kg induk betina) dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3 dosis total (atau 1,4 kg ikan mas/kg induk betina). Induk jantan disuntik satu kali, berbarengan penyuntikan kedua dengan dosis 0,6 ml/kg induk jantan.

6. Pemijahan secara induced breeding

Pengambilan sperma

Pengambilan sperma dilakukan setengah jam sebelum pengeluaran telur. Caranya, tangkap 1 ekor induk jantan yang sudah matang kelamin, lap hingga kering, bungkus tubuh induk dengan handuk kecil, pijit ke arah lubang kelamin, tampung sperma ke dalam mangkuk plastik atau cangkir gelas; campurkan 200 cc Natrium Clhorida (larutan fisiologis atau inpus), aduk hingga homogen. Catatan : pengeluaran sperma dilakukan oleh dua orang. Satu orang yang memegang kepala dan memijit dan satu orang lagi memegang ekor dan mangkuk plastik. Jaga agar sperma tidak terkena air.

7. Pengeluaran telur

Pengeluaran telur dilakukan setelah 10 – 12 jam setelah penyuntikan, namun 9 jam sebelumnya dilakukan pengecekan. Cara pengeluaran telur : siapkan 3 buah baskom plastik, sebotol Natrium chlorida (inpus), sebuah bulu ayam, kain lap dan tisu, tangkap induk dengan sekup net, keringkan tubuh induk dengan handuk kecil atau lap, bungkus induk dengan handuk dan biarkan lubang telur terbuka, pegang bagian kepala oleh satu orang dan pegang bagian ekor oleh yang lainnya, pijit bagian perut ke arah lubang telur oleh pemegang kepala, tampung telur dalam baskom plastik, campurkan larutan sperma ke dalam telur, aduk hingga rata dengan bulu ayam, tambahkan Natrium chrorida dan aduk hingga rata, buang cairan itu agar telur-telur bersih dari darah, telur siap ditetaskan.

8. Pemijahan secara induced spawning

Pada pemijahan secara induce spawning, telur dan sperma tidak dikeluarkan, tetapi induk dan betina dibiarkan memijah sendiri. Pemijahan ini dilakukan di bak tembok. Caranya, siapkan siapkan bak tembok ukuran panjang 4 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m, bersihkan lumpur dan kotoran lainnya, keringkan selama 3 – 4 hari, isi air setinggi 80 cm, pasang hapa dengan ukuran sama dengan bak; suntik induk betina pada pukul 06.00 (dosis lihat penyuntikan), suntik kembali induk tadi pada pukul 12.00 dan masukan ke bak pemijahan, suntik induk jantan pada pukul 12.00 dan satukan dengan induk betina, alirkan air lebih besar lagi, biarkan memijah. Catatan : Pemijahan biasanya mulai terjadi pukul 24.00 dan berakhir pagi hari.

9. Penetasan di akuarium

Penetasan telur ikan jelawat dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan 20 buah akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm, keringkan selama 2 hari, isi air bersih setinggi 30 cm, pasang empat buah titik aerasi untuk setiap akuarium dan hidupkan selama penetasan, tebarkan tebar secara merata ke permukaan dasar akuarium, 2 – 3 hari kemudian buang sebagian airnya dan tambahkan air baru hingga mencapai ketinggian semula. Telur akan menetas dalam 2 – 3 hari.

10. Penetasan di corong

Penetasan juga bisa dilakukan di corong yang terbuat dengan kain terilin. Corong ini berdiameter 40 – 50 cm dan tinggi 60 cm. Pada bagian bawah dipasang selang sebagai tempat mengalirkan air yang dihubungkan dengan bak air bersih dan dipasang kran. Penetasan dengan corong dilakukan dengan cara, siapkan sebuah bak panjang 2 m, lebar 0,5 m dan tinggi 0,8 cm, keringkan selama 3 – 4 hari; isi bak tersebu dengan air bersih setinggi 70 cm dan biarkan mengalir selama penetasan, pasang 4 buah corong penetasan, alirkan air dengan membuka kran dalam bak air bersih, masukan 1 liter telur dari tempat pemijahan; biarkan menetas. Telur akan menetas dalam waktu 2 – 3 hari, setelah menetas dibiarkan dahulu selama 2 hari hari sebelum ditebar ke kolam pendederan.

11. Pendederan I di kolam

Pendederan I ikan jelawat dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan selama 4 – 5 hari, perbaiki seluruh bagiannya, buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm, ratakan tanah dasarnya, tebarkan 5 – 7 karung kotoran ayam atau puyuh, isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan), tebar 50.000 ekor larva pada pagi hari, setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari, panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.

12. Pendederan II

Pendederan kedua juga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari, perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm, ratakan tanah dasar, tebarkan 5 – 7 karung kotoran ayam atau puyuh, isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan), tebar 40.000 ekor benih hasil pendederan I (telah diseleksi), beri 2 – 4 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari, panen benih dilakukan setelah berumur sebulan.

13. Pendederan III

Pendederan ketiga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari, perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya, ratakan tanah dasarnya, tebarkan 2 karung kotoran ayam atau puyuh, isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan), tebar 30.000 ekor hasil dari pendederan II (telah diseleksi), beri 4 – 6 kg pelet, panen benih dilakukan sebulan kemudian.

14. Pembesaran

Pembesaran ikan jelawat dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan sebuah kolam ukuran 500 m2, perbaiki seluruh bagiannya, tebarkan 6 – 8 karung kotoran ayam atau puyuh, isi air setinggi 40 – 60 cm dan rendam selama 5 hari, masukan 10.000 ekor benih hasil seleksi dari pendederan III, beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terus sesuai dengan berat ikan; alirkan air secara kontinyu, lakukan panen setelah 2 bulan. Sebuah kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi ukuran 125 gram sebanyak 300 – 350 kg.

Sumber : lpkbipi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>