Menyatukan fungsi Depth Sounder, GPS dan Plontang

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya tentang alat bantu mancing yang sudah diterbitkan lebih dulu. Setelah kita mengerti peralatan dan fungsinya masing-masing,  sekarang kita akan coba membahas bagaimana penerapannya di lapangan?

  1. Sebelumnya anda pernah mancing di spot ini, dan hasilnya sangat memuaskan. Pada saat kita ingin kembali ke tempat kita memancing yang lalu, kita gunakan GPS untuk memandu kita menuju spot tersebut. Tentunya pada waktu mancing yang sebelumnya anda sudah menandai spot tersebut dengan GPS yang anda miliki.
  2. Setelah kita sampai di spot yang kita tuju, posisinya tidak perlu tepat benar juga tidak apa-apa asal radiusnya sekitaran 10m saja, lemparkan plontang ke laut. Tentu saja, panjang tali ke dasar laut di sesuaikan dengan kedalaman laut disana. Jangan sampai kedalaman laut 35m, tapi talinya hanya 30m!.
  3. Kedalaman laut dapat kita ketahui dari depth sounder tentunya. Yang harus diperhatikan adalah satuan di sounder bisa kita ubah menjadi meter atau feet, sesuai selera masing-masing.
  4. Setelah plontang kita lemparkan, sekarang tunggu sampai induk plontang dan anak plontang sudah “stabil”. Maksudnya, induk dan anak plontang sudah tidak bergerak-gerak lagi posisinya karena arus disekitar, dan itu juga berarti pemberat tidak larat atau bergeser. Sekarang jalankan kapal disekitar plontang untuk mengetahui dimana persisnya “tohor” dari karang atau tandes tersebut jika dibandingkan dengan posisi plontang. Hal yang perlu diperhatikan adalah jika spot tersebut berbentuk tandes, karena ikan dasaran (terutama ikan kakap) bersifat amat “manja” umpan harus jatuh persis di depan mereka, kalau tidak mau acara mancing gagal. Sedangkan jika spot ini berbentuk karang, hal ini tidak begitu bermasalah karena ikan-ikan predator (seperti tenggiri) tidak “diam” saja di depan karang, tapi selalu “berpatroli” di seputaran karang tersebut.
  5. Sekarang perhatikan posisi plontang dan tohor. Anggaplah posisi tohor sebenarnya ada di depan plontang, dengan jarak 5 meter.
  6. Majukan kapal lurus ke depan (ke depan = tarik garis khayal dari anak plontang ke induk plontang). Dengan kata lain, kapal akan bergerak melawan arus.
  7. Setelah jarak yang cukup, kira-kira 150 meter tergantung seberapa kuatnya arus saat itu, baru jangkar diturunkan.
  8. Jika spot ini berbentuk tandes : ulur tali jangkar perlahan-lahan, sampai diperkirakan umpan akan jatuh persis di depan tohor.
Jika kita perhatikan dengan seksama, langkah 1-2 memerlukan GPS, langkah 2 memerlukan plontang, dan langkah 3-4 memerlukan depth sounder. Sedangkan langkah 5-8 memerlukan latihan yang cukup, sampai anda bisa mendapatkan ‘greget’ atau ‘feel’ yang pas.(sumber : amarylis-foundation.blogspot.com)