Newseum Cafe

Newseum Cafe
Newseum merupakan ringkasan antara News (berita) dan Museum (sebuah tempat menyimpan dan memamerkan benda-benda memorabilia secara tematik). Newseum, dalam positioning-nya menjadi tempat menyimpan kenangan yang berhubungan dengan berita, dalam hal ini semacam ruang arsip surat kabar.

Taufik Rahzen sebagai pemilik dan pengelola berulang kali menyatakan, bahwa Newseum yang menggabungkan antara Café Domus (disebut juga Café Matahari) dan galeri untuk berpameran adalah tempat bersejarah. Di dalam café, lantai dua, terdapat sebuah panggung untuk pertunjukan musik atau diskusi. Di latar belakang pangung, juga di dinding kiri dan kanan, dihiasi dengan perwajahan sekitar 500 media massa Indonesia maupun internasional yang pernah terbit sejak sebelum kemerdekaan.

Dengan warna aneka, Newseum bakal menjadi ruang alternatif untuk menyampaikan gagasan, mencari jawaban persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, dan media ekspresi seni lukis (diam) mapun teater (bergerak). Masih terbuka luas kesempatan bagi para kreator yang membutuhkan panggung, para seniman yang memerlukan galeri, dan para sastrawan yang ingin berdiskusi tentang bukunya.

Tempat Pertemuan Westerling dan Sultan Hamid
Sebuah layar proyektor menutup sesisi ruangan di lantai dua itu, di sebelahnya meja bar memanjang hampir sepuluh meter panjangnya, juga enam pasang kursi indies. Sebuah perpustakaan menyelip di pojoknya, sementara di seberangnya ruang Westerling. Di sinilah Westerling dan Sultan Hamid dulu sering bertemu dan ngobrol-ngobrol, sebuah ruang di pojok. Ukurannya tiga kali tiga meter, loker untuk cerutu, satu set furnitur mewah mirip bos-bos VOC dan sebuah patung garuda di meja.

Sebuah ruangan lagi terhubung, luasnya hampir sama. Suasananya tak jauh berbeda, tambahannya hanya sebuah TV plasma ukuran jumbo di pojok, dan puluhan cermin yang menempel kedua sisi dindingnya. Menarik. Memasuki ruang itu lalu duduk di kursinya, dari cermin-cermin itu waktu seperti tercerabut, seperti menikmati kembali tajam mata Westerling yang ngotot atau persuasi Sultan Hamid dalam merencenakan coup d’ etat itu.

Menawarkan Menu Budaya
Newseum Café lebih tepat disebut tempat pertukaran ide ketimbang urusan perut. Sebab, kafe ini lebih menawarkan menu budaya, ketimbang kuliner. Tidak seperti kafe-kafe lainnya yang mencoba memikat pengunjung dengan cita rasa makanan atau minuman, Newseum Cafe memang menawarkan dialog. Kafe ini tak buka setiap hari. Namun, setiap Rabu ada pemutaran film, tentu bukan film bioskop tapi lebih banyak film dokumenter dan alternatif. Juga hari-hari tertentu. Pameran foto anak-anak SMA, peluncuran buku, atau sekadar baca puisi juga pameran lukisan.

Mendorong pintu tebal terbuat dari jati itu terbuka, sebuah tangga menuju lantai dua menanti. Memanjang dan agak gelap, juga dengan lapisan poster media massa yang menempel di seluruh temboknya itu. Ada Sinar Hindia, Njala, Pemberita, Medan Prijaji hingga Ra’jat Bergerak. Tak semua media-media itu familiar, tentu saja karena sebagian besar memang hanya tinggal nama. Pada suatu waktu dimasa lalu mereka adalah media massa berpengaruh.
Tak hanya di tangga, sesampai di lantai dua suasana masih sama, tembok yang dilapisi kliping koran, poster, dan lukisan yang tergantung, patung-patung, hingga puluhan peta badui yang menjuntai dari langit-langit. Newseum Cafe lebih mirip museum atau galeri dibanding sebuah kafe.

Ruangan

Ruangan utama Newseum Cafe Jakarta dengan panggung rendah di salah satu ujungnya yang biasa digunakan untuk pertunjukan musik atau acara lainnya.

Cahaya matahari terang yang melewati kaca tebal berwarna merah memberi efek cahaya yang memukau pada ruangan di Newseum Cafe, Cafe yang dahulu sering dipakai sebagai tempat nongkrong oleh Westerling.

Ruangan kedua di Newseum Cafe Jakarta dengan warna gelas kaca kekuningan memberi nuansa lain yang sangat mengesankan.

Dinding di belakang bar Newseum Cafe Jakarta dipenuhi dengan frame potret berukuran kecil, yang beberapa diantaranya dibiarkan kosong tanpa isi.

Berada tepat di pusat “lingkar” kekuasaan, kafe ini dikelilingi Istana Negara, Gedung Mahkamah Agung, Masjid Istiqlal, hingga Monumen Nasional. Jaraknya hanya berada dalam radius “sepelemparan” batu. Newseum Cafe menempati lantai dua dalam deretan bangunan bergaya indies bercat warna merah bata di tepi Ciliwung, sementara Domus Cafe atau yang lebih dikenal lounge Matahari menempati lantai satunya.

Newseum Cafe adalah tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk menghidupkan malam di kota Jakarta yang sangat sibuk dan macet ini. Berbagai diskusi, pameran dan pertunjukan musik secara rutin diselenggarakan di sini setiap bulannya.

NEWSEUM CAFE
Jl. Veteran 1 No.33, Jakarta Pusat
(Deretan Es Krim Ragusa)
Telpon: 021- 344-6703

(Berbagai Sumber)