Coto Ikan

Coto ikan kini hadir meramaikan khasanah khas kuliner Makassar. Berbeda dengan coto yang dikenal selama ini yang berbahan baku daging sapi atau ayam, masakan satu ini justru dikembangkan dengan memanfaatkan bahan dasar ikan. Munculnya coto ikan makin menasbihkan Kota Anging Mammiri sebagai kota dengan ragam olahan berbahan dasar ikan. Sebelumnya, Makassar identik dengan ikan bakar, ikan berkuah kunyit atau pallu mara, dan ragam masakan khas lain.

Berbeda dengan hidangan coto sebelumnya yang bisa dijumpai di banyak tempat, termasuk di Jakarta, coto ikan saat ini hanya dapat ditemukan di satu tempat, yakni di Restoran Seafoodku, Makassar. Maklum, jenis coto satu ini merupakan hasil inovasi sang pemilik restoran. Makanan ini diklaim merupakan hasil inovasi pertama kali yang dikembangkan di Makassar dan juga di Indonesia.

Di tangan penemu masakan ini, Loliawati Lodewyk, ikan diolah sedemikian rupa sehingga ketika dicicipi rasanya sama seperti ketika kita mencicipi daging. Itu termasuk untuk bahan jeroannya. Menurut Loliawati, butuh waktu empat bulan untuk bisa menemukan rasa yang pas serta olahan daging yang sempurna dari ikan. Apalagi, kata dia, tidak semua jenis ikan dapat dijadikan bahan dasar coto untuk dicampur dengan kuah. Setelah memastikan citarasa pas dan sudah sesuai dengan coto daging kebanyakan, barulah masakan ini diperkenalkan kepada konsumen pada Juni 2013.

”Coto ini harus beda dari biasanya, makanya benar-benar dilakukan survei khusus sebelum menjatuhkan pilihan pada jenis ikan apa yang digunakan. Ikan dan jeroan ikan rasanya menyatu dan tidak ada rasa amis seperti pada jenis ikan kebanyakan,” ujar Loliawati.

Pengusaha wisata ini menuturkan, dari segi sajian untuk pemanis dan pelengkap, makanan ini tidak ada bedanya dengan jenis coto lain. Selain rasa yang gurih dan nikmat, penyajiannya pun hampir sama dengan coto pada umumnya, yakni dinikmati dengan bawang goreng, daun bawang, jeruk nipis, sambal tauco, serta nasi atau ketupat yang menggunakan daun pandan sebagai pembungkusnya. Untuk kuah, diramu dengan campuran bahan kaldu sayuran wortel dan lobak agar tidak mengurangi rasa merica, bawang merah, putih, dan lengkuasnya.

Kesungguhan Loliawati menginovasi ikan menjadi coto tidak hanya karena ingin mencari varian baru, tapi juga untuk menciptakan panganan sehat. Sehingga, bagi mereka yang tidak ingin menikmati daging sapi karena khawatir akan kolesterol, kuliner baru ini bisa jadi pilihan. Untuk menikmatinya, Anda cukup membayar dengan harga yang sangat terjangkau. Setiap porsi ditawarkan Rp17.500. Tidak hanya itu, konsumen juga diperbolehkan memilih daging atau jeroan yang diperoleh dari perut ikan ketika akan mencampurnya dengan kuah.

”Coto kami tentu beda dengan di tempat lain. Resepnya mengawinkan rasa khas lidah Makassar dengan resep turun-temurun keluarga kami dari Balikpapan. Pembuatannya pun semua saya tangani langsung, tidak melibatkan orang lain demi menjaga rasa tetap sama,” tutur Loliawati. Penyajiannya tidak membutuhkan waktu lama. Ketika pengunjung memesan, hanya butuh waktu lima menit, hidangan coto pun sudah di depan mata.

Di Restoran Seafoodku, para tamu yang berkunjung tidak saja dapat menikmati coto ikan. Namun, suasana Makassar sebagai kota bandar niaga juga bisa dinikmati. Berada di lantai 8 gedung, pengunjung akan menikmati panorama Kota Makassar dari ketinggian.

Pengunjung pun seolah-olah berada di atas geladak kapal karena suasana sekeliling ruangan restoran didesain menyerupai kapal. Suasana semakin romantis pada sore hari karena matahari terbenam bisa dilihat langsung dengan latar belakang Pantai Losari.

Daging ikannya empuk. Ketika mencicipi kuahnya tidak ada aroma dan rasa amis. Nanti baru tahu bahannya ikan ketika menggigit dagingnya. Dagingnya juga empuk seperti daging sapi. Jeroannya pun tidak hancur, melainkan tetap kenyal ketika digigit. (okefood)