Foto 1

Masjid Luar Batang

Salah satu masjid tua yang tersohor adalah Masjid Luar Batang, yang terletak dikawasan Luar Batang, Jakarta utara. Jika anda sudah berada di Jakarta, rasanya, tak sulit untuk mencari tempat ini.

Hampir semua transportasi umum bisa digunakan untuk menuju tempat ini. Letaknya tidak jauh dari pusat perdagangan Jakarta Kota. Dulu sebelum Jakarta menjadi seperti ini, daerah Luar Batang dan sekitarnya termasuk daerah kawasan pusat perkotaan. Di sekitar situlah, terdapat pelabuhan, pusat perdagangan dan juga pusat pemerintahan.

Maka tak mengherankan jika, beberapa dasarwasa yang lalu, penduduk disekitar Jakarta, banyak yang lebih dulu memilih mampir dan melaksanakan shalat di masjid ini sebelum berangkat Ibadah Haji ke Mekah, begitupula setelah mereka kembali .

masjid3Masjid ini, pada awalnya, sama saja dengan masjid-masjid di betawi pada umumnya. Masjid Luar Batang terkenal karena dihalaman masjid itu ada makam Sayid Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus yang tutup usia pada 24 juni 1756. Almarhum lebih sering disebut sebagai Al-Habib (Habib Husein). Beliau adalah seorang tokoh yang dipercaya kedalaman agamanya. Tak mengherankan jika kemudian banyak sekali baik dari dalam maupun luar negeri, yang berziarah ke makamnya dan dianggap keramat ini.

Semula makam tersebut memang terletak di halaman masjid, tetapi sejak 1827, ketika masjid tersebut diperluas, makam Sayid Husein tersebut didalam masjid. Yang menarik, menurut cerita, sejak dimakamkannya Sayid Husein bin Abdillah Alaydrus di sana, masjid tersebut menjadi banyak disinggshi orang untuk berziarah. Bahkan diantaranya tak jarang yang bermalam di sana sempai 7 hari. Dibulan Ramadhan, jumlah mereka yang bermalam lebih banyak. Terutama di 10 malam terakhir .

Tetapi, kapan masjid ini dibangun dan mulai digunakan tidak pernah jelas! Informasi tentang itu minim sekali. Hal ini bisa dimengerti sebab tradisi mencatat awal pembangunan masjid relatif tidak ditemukan dimasa itu. Begitupun dengan tradisi peresmian selesainya masjid, tidak kita temui catatannya. Dan kalau pun ada catatan mengenai hal ini, itu datangnya dari seorang Ronkel, peneliti dari Belanda. Menurut dia masjid ini selesai dibangun pada 29 April 1739. Ia mengungkapkan hal itu setelah menyaksikan catatan di atas pintu masuk ke masjid pada 1916 .

Salah seorang kerabat Habib Husein yaitu, Sayid Abubakar bin Abdillah Alaydrus pernah menulis kecil tentang leluhurnya itu. Menurut buku ini Al-Habib Husein bin Abdillah Alaydrus lahir di Hadhramaut, Yaman Selatan, tiga abad lalu. Pada masa remaja, Habib Husein dititipkan ibunya pada seorang “Alim Shufi“. Dari tokoh inilah ia belajar thariqah, hingga usia dewasa .

Setelah menjadi ahli tharigah Habib Husein merantau untuk mensyiarkan agama Islam. Tempat pertama yang disinggahinya adalah kota Gujarat di India. Di kota yang hampir semua penduduknya beragama hindu itu, Habib Husein mulai menyebarkan agama Islam Kegiatan ini kemudian dilanjutkan ke kota-kota di sekitar Gujarat. Karena syiarnya yang gencar tersebut berkembang dengan cepat di Gujarat dan sekitarnya .

Setelah lama bermukim di India, Habib Husein melanjutkan perjalanannya ke wilayah Asia Tenggara termasuk pulau Jawa. Kemudian ia memilih untuk menetap di Jakarta yang dulu bernama Batavia pada 1736. Di kota ini Habib Husein membangun sebuah surau sebagai pusat pengembangan ajaran islam.

Banyak pengunjung dari daerah sekitarnya dan daerah lain di pulau Jawa yang belajar agama Islam di surau ini. Karena banyaknya orang yang datang ke surau itu untuk belajar agama Islam, pemerintah VOC mulai khawatir dan curiga. Kegiatan surau tersebut dicurigai dapat menggangu ketertiban dan keamanan. Tidak dapat dipahami mengapa VOC berfikir seperti itu. Lebih tidak dapat dipahami lagi ketika Habib Husein dan para pengikut umatnya lantas dihukum dan disekap di penjara Glodok .

Penjara tidak mematahkan semangat Habib Husein untuk mensyiarkan agama Islam. Di dalam rumah tahanan pun ia berdakwah dengan sesama terpidana. Akhirnya, pemerintah VOC membebaskan Habib Husein dan para pengikutnya, karena dicurigai mereka tak beralasan. Tak lama setelah itu dalam usia yang relatif muda 30-40 tahun, beliau tutup usia pada 24 juni 1756 .

Ulama ini dimakamkan di halaman rumahnya. Ketokohan Syaid Husein bin Abdillah Alaydrus, banyak dikenal orang bukan saja lantaran kegigihannya menyebarkan syariat Islam. Tepi beliau juga dikenal sebagai ulama muda yang kedalaman ilmunya cukup tinggi. Tak mengherankan jika kemudian beredar banyak legenda dan cerita yang menyangkut kehebatan tokoh ini.

masjid2Sebagai masjid lama, Masjid Luar Batang telah beberapa kali diperluas dan dipugar. Pintu gerbang masuk ke halama masjid belakang diubah bentuknya dan terakhir bergaya Timur Tengah. Ruang utama masjid yang berbentuk segi empat ditopang oleh tiang penyangga yang juga bersegi empat tanpa ornamen. Serambi yang terletak diruang utama ditopang oleh delapan tiang yang juga bersegi empat. Makam Habib Husein yang cungkupnya di tutup dengan kain berwarna hijau terdapat di sebelah serambi. (Dewan Masjid Indonesia)