Museum Kebangkitan Nasional

Museum Kebangkitan Nasional adalah sebuah museum yang memamerkan berbagai koleksi benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan sejarah kebangkitan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaannya. Museum ini menempati gedung tua bekas sekolah kedokteran yang didirikan oleh Belanda untuk orang-orang bumiputra bernama STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Arsten). Bekas gedung sekolah kedokteran ini mulai dibangun sejak tahun 1899 M dan selesai pada tahun 1901 M. Di gedung ini, para mahasiswa bumiputra dari berbagai daerah di Indonesia dididik selama 7—9 tahun dan diharuskan tinggal dalam sebuah asrama sekolah.

Gedung STOVIA merupakan tempat berkumpulnya orang-orang terpelajar bumiputra dari berbagai daerah di Nusantara. Di gedung inilah bibit-bibit nasionalisme dan kebangkitan bangsa Indonesia mulai bersemai, tumbuh, dan menyebar. Pada tanggal 20 Mei 1908, di gedung ini telah lahir organisasi pergerakan nasional Budi Utomo yang dipelopori oleh beberapa mahasiswa STOVIA, antara lain dr. Sutomo, dr. Ciptomangunkusumo, dr. Wahidin Sudirohusodo, dan dr. Setiabudi (Douwes Dekker). Kemunculan organisasi ini, dalam catatan sejarah, dianggap sebagai tonggak penting dalam proses terbentuknya kesadaran nasional untuk melawan penjajah Belanda.

Tanggal lahir organisasi Budi Utomo kemudian ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai hari Kebangkitan Nasional. Pada masa pendudukan Jepang, yakni tahun 1942, gedung eks STOVIA ini difungsikan sebagai penjara bagi tentara Belanda yang menjadi tawanan perang. Pada tahun 1920 pendidikan Stovia dipindahkan ke Gedung baru, di Jl. Salemba No. 6, karena gedung lama tidak memenuhi syarat lagi untuk pendidikan kedokteran. Pada tahun 1925 Gedung Stovia digunakan untuk pendidikan MULO (setingkat SMP), AMS (setingkat SMA), dan Sekolah Asisten Apoteker. Sekolah ini berlangsung sampai tahun 1942, karena sejak kedatangan bala tentara Jepang (1942-1945) gedung ini digunakan untuk tempat penampungan bekas tentara Belanda (sebagai tawanan perang).

Setelah Indonesia merdeka, gedung tua bekas sekolah STOVIA tersebut masih berdiri kokoh dan baru direnovasi oleh Pemerintah DKI Jakarta pada tanggal 6 April 1973. Setelah beberapa lama, gedung ini diresmikan oleh Presiden Soeharto menjadi Gedung Kebangkitan Nasional, dan pada tanggal 27 September 1982 pengelolaannya dialihkan dari Pemerintah DKI Jakarta kepada Pemerintah Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Dengan kewenangan ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui SK Mendikbud No. 030/0/1984 akhirnya menetapkan penyelenggaraan sebuah museum di dalam Gedung Kebangkitan Nasional dengan nama Museum Kebangkitan Nasional.

Ruang Pameran Koleksi Museum Kebangkitan Nasional :

Ruang Pengenalan ( penataan kembali )
Berisi tentang penggambaran masuknya kedatangan bangsa barat di Indonesia, sampai munculnya perlawanan lokal atau yang masih bersifat kedaerahan.

Ruang Awal Pergerakan Nasional
Menggambarkan bangkitnya pergerakan nasional di Indonesia. Pada Ruang ini antara lain :

  • Peragaan Klas STOVIA
  • Pembelaan HF. Roll
  • Patung Pelajar STOVIA dari berbagai daerah di Indonesia

Ruang Kesadaran Nasional
Pada ruangan ini menggambarkan tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara lewat perjuangan R.A. Kartini, Wahidin, Dewi Sartika dan sebagainya. Koleksi yang terdapat di ruangan ini antara lain :

  • Meja Kursi makan pelajar STOVIA
  • Peralatan Kedokteran

Ruang Pergerakan Nasional
Ruang ini menggambarkan tentang perjalanan awal dari jalannya pergerakan Nasional di Indonesia, yang dimulai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo, Indische Partij, Muhammadiyah dan lain sebagainya. Pada ruang ini koleksi antara lain :

  • Diorama pertemuan Wahidin, Sutomo dan Suradji
  • Diorama berdirinya Budi Utomo
  • Foto-foto Organisasi awal Kebangkitan
  • Vandel-vandel
  • Foto-foto organisasi Pemuda

Ruang Propaganda Studie Fonds
Menggambarkan suasana pada saat pertemuan antara Wahidin dengan para pelajar STOVIA, untuk membicarakan tentang keadaan masyarakat yang pada umumnya sangat tertinggal dalam bidang pendidikan, sehingga muncullah ide pembentukan Studie Fonds. Koleksi pada ruang ini antara lain :

  • Lukisan perjalanan Dr. Wahidin
  • Patung Dr. Wahidin
  • Patung pelajar STOVIA

Ruang Memorial Budi Utomo
Pada ruang ini yang sebelumnya disebut sebagai ruang Praktek Anatomi, menjadi tempat paling bersejarah diantara ruang yang lain, karena di ruang ini Soetomo dengan kawan-kawannya mendirikan organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Koleksi pada ruang ini antara lain :

  • Lukisan Wahidin Sudirohusodo
  • Kerangka Manusia yang digunakan praktek pelajar STOVIA
  • Kursi Kuliah STOVIA
  • Patung dada pendiri Budi Utomo
  • Foto kegiatan pelajar STOVIA
  • Lukisan situasi perkumpulan Budi Utomo

Ruang Pers
Menggambarkan tentang perjalanan Pers Perjuangan di Indonesia. Koleksinya antara lain :

  • Tokoh Pers
  • Vandel Berbagai macam alat cetak
  • Mesin Tik
  • Tustel
  • Foto-foto

Alamat : Jl. Dr. Abdul Rahman Saleh No.26 Jakarta Pusat
Telp : 34830033
Fax : 3847975

(berbagai sumber)

3 Responses

  1. dena says:

    Museum kebangkitan nasional tetap harus terjaga kelestarianya,selain sebagai BCB museum ini juga memiliki arti penting bagi semua masyarakat baik umum,pelajar ataupun mahasiswa.Di museum inilah kita bisa belajar bagaimana perjuangan suatu bangsa untuk mencapai kemerdekaan.Dengan satu tekat yang sama membangun sebuah negara dengan rasa senasib dan sepenanggungan maka pada saat itulah didirikanya organisasi Boedi oetomo yang merupakan organisasi pergerakan nasional pertama di masa itu (1908).

    saran saya:

    – Agar di tingkatkanya lagi pihak bimbingan dalam bidang Edukasi supaya masyarakat lebih dapat memahami arti kebangkitan nasional itu sendiri.

    – Data tentang koleksi agar di perlengkap agar para pengunjung dapat mudah mengerti.

    – Koleksi yang berkaitan dengan kebangkitan nasional agar di tambah.

  2. Dasman Djamaluddin says:

    SAYA diundang oleh rekan saya Kepala Museum Kebangkitan Nasional, Edy Suwardi menghadiri seminar menyambut Hari Kebangitan Nasional, Kamis, 16 Juni 2010, di Jakarta. Seminar yang diselenggarakan sangat menarik karena kehadiran Prof Ahmad Mansur Suryanegara, pakar Sejarah Islam dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Di samping itu ada pula Asvi Warman Adam, Sejarawan dari LIPI.

    Berpenampilan bersahaja, pakaian dan rambut rapi, warna rambut sudah memutih, maklumlah sudah berusia 74 tahun, Ahmad Mansur Suryanegara meragukan Hari Kebangkitan Nasional dikaitkan dengan Sejarah Budi Utomo 20 Mei 1908. Menurut Ahmad Mansur Suyanegara, Gerakan Budi Otomo adalah gerakan lokal, hanya diperuntukkan untuk suku Jawa, apakah harus dikatakan sebagai kebangkitan nasional? Bahkan suku lain tidak diizinkan masuk ke dalam gerakan tersebut. “Saya ingin kita mengevaluasi Hari Kebangkitan Nasional tersebut,” tegas Ahmad Mansur

    Sebagai pakar Sejarah Islam, Ahmad Mansur Suryanegara juga menyinggung keberadaan suku Minangkabau yang dikatakannya sebagai penggerak aliran komunis di Indonesia. Disebutkannya beberapa nama, seperti Tan Malaka. “Namun demikian,”ujarnya lagi “banyak juga Suku Minangkabau menjadi pemuka Agama Islam, seperti Hamka,” tambahnya.

    Saya pribadi menyambut baik gagasan Ahmad Mansur Suryanegara ini sebagaimana pendapat Asvi Warman Adam yang juga mengatakan jika menulis G.30.S tanpa PKI. Menurut saya ini merupakan sumber-sumber yang mengajak bangsa ini lebih kritis melihat suatu permasalahan, sekaligus mengajak untuk menelusuri lebih jauh sejarah bangsa, tidak sekedar meng “Iya” kan atau sebaliknya. Sudah saatnya para sejarawan menggali hal-hal atau penemuan-penemuan baru yang jika keliru bisa diperdebatkan lagi, sehingga kita tidak terpaku kepada pendapat para ahli dari luar negeri semata-mata. Tidaklah mungkin kita percaya seratus persen dengan pendapat para ahli luar negeri yang sedang mengkaji masalah bangsa Indonesia, di bandingkan dengan para ahli dari dalam negeri sendiri yang adalah bangsa Indonesia sendiri.

    Ya, pada saatnya pula kita harus berbicara mengenai keterbatasan Saya ingin menggaris bawahi mengenai suku Minangkabau yang juga dikategorikan sebagai pemberontak dan disebut pula oleh Ahmad Mansur Suryanegara, yaitu Ahmad Husein, Pemimpin PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Hal ini saya bantah, karena sebelum meninggalnya, saya dua kali bertemu Ahmad Husein. Dia mengatakan, bahwa PRRI adalah pemberontak, itu tidak benar. “Kami bukan pemberontak,”ujarnya. “Kami hanya melakukan koreksi total kesenjangan antara pemeintah pusat dan daerah, selain mengingatkan Presiden Soekarno tidak terlalu dekat dengan Partai Komunis Indonesia,” tegas Ahmad Husein yang waktu itu sudah sakit-sakitan di kursi rodanya.

    Kembali mengenai keterbatasan ini, saya ingin mengutip pernyataan Dr.Alfian (alm), salah seorang sejarawan Indonesia yang terkenal pada masanya. Di dalam sebuah pengantar buku:”Meluruskan Sejarah karya B.M.Diah,” Alfian mengatakan bahwa sesuai dengan tuntutan profesi keilmuannya, para ahli sejarah tentu berusajha keras untuk bersikap obyektif dalam menulis karyanya. Sungguh pun begitu, ujarnya, jauh di lubuk hati dan alam pikirannya, mereka mengetahui betul bahwa mustahil bagi siapa saja, betapa pun pintar dan ahlinya, untuk menghasilkan tulisan sejarah yang dapat dikatakan betul-betul obyektif dan sempurna. Sebuah tulisan sejarah memang dapat dikatakan, ditinjau dari segi mutu dan sebagainya, lebih obyektif dan lebih sempurna dari karya-karya lainnya. Tetapi tulisan tersebut tidaklah dapat dikatakan sebagai sesuatu yang final atau sebuah karya tanpa kelemahan dan kekurangan sama sekali. Di samping banyak tulisan sejarah yang buruk dan tidak bermutu, biasanya ada sejumlah karya yang dinilai baik dan berkualitas tinggi.

    Bagaimana pun juga, tegas Alfian, para ahli sejarah sendirilah yang pertama-tama mengakui bahwa tidak ada tulisan sejarah yang betul-betul sempurna, dan juga betul-betul lurus.

    “Itulah antara lain sebabnya mengapa sejarah merupakan salah satu bidang studi yang bagaikan sumur penelitian yang tak pernah kering atau lahan pengkajian yang tak pernah habis. Dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, berbagai ahli datang menimba atau menggarapnya, dan dari situ lahir karya-karya sejarah baru memperkaya khasanah yang sudah ada yang terus membesar,” jelas Alfian.

  3. LASARUS says:

    menurut saya museum STOVIA ini wajib didatangi pelajar yang ingin mengetahui tentang sejarah organisasi Budi Utomo