• -6.153636, 106.792756

Museum A.H.Nasution

Museum A.H.Nasution

Apa yang teringat saat mendengar nama AH Nasution? Mungkin akan ada yang mengaitkannya dengan peristiwa usaha penculikan yang dilakukan oleh Pasukan Tjakrabirawa yang sudah terpolusi oleh ideologi PKI. Sepenggal kisah itu berusaha dihadirkan melalui Museum Nasution yang baru diresmikan oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bertepatan dengan hari kelahiran beliau 3 Desember 1918. Museum Jenderal Besar Dr. A.H Nasution (Pak Nas) berlokasi di Jalan Teuku Umar Nomor 40 Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Di kediamannya inilah, 43 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 1 Oktober 1965. Telah terjadi peristiwa dramatis dimana PKI dengan G 30-Snya berupaya menculik dan membunuh pak Nas yang saat itu menjabat sebagai Menko Hankam atau KASAD. Namun, beliau berhasil menyelamatkan diri dan luput dari pembunuhan berencana tersebut. Tetapi, Ade Irma Suryani Nasution yang merupakan putri keduanya beserta ajudannya Lettu Czi Piere Tendean gugur dalam peristiwa tersebut.

Di museum ini terdapat benda-benda peninggalan pak Nas yang tergolong memiliki nilai-nilai dan historis yang tinggi. Sehingga perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Diantaranya, ruang tamu, meja kerja yang selalu digunakannya sebelum meninggal,ruang kuning yang merupakan ruangan kesayangannya untuk menerima tamu VIP, ruang senjata berisikan senjata-senjata koleksinya, sampai ruang kamar tidurnya yang menjadi saksi bisu kejadian 43 tahun lalu.

Berbagai seragam, piagam-piagam penghargaan baik dari dalam dan luar negeri dapat ditemui di museum ini. Juga barang-barang kesayangan Ade Irma, yaitu sebuah seragam Kowad mini, sepasang sepatu, tas kulit kecil, tempat air minum plastik dan boneka, serta baju yang digunakan Ade Irma saat tragedi, terlihat masih terawat baik. Juga terdapat diorama maupun relief yang menceritakan sejarah perjalanan hidup seorang Jenderal Besar Abdul Harris Nasution.

Bertempat di Jalan Teuku Umar Nomor 40, Jakarta Pusat, museum ini bisa menjadi alternatif tempat wisata sejarah yang layak dikunjungi. Museum ini merupakan tempat kediaman resmi keluarga AH Nasution yang disulap menjadi tempat penayangan sejarah. Terdiri dari rumah utama dan paviliun yang berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 2000 meter persegi. Tak ada yang berubah dari rumah tersebut, kecuali pengecetan ulang dinding maupun jendela dan pintu rumah.

Rumah utama merupakan sentral dari museum. Ada delapan ruangan yang terdapat di rumah tersebut. Ruang tamu utama terletak di bagian depan rumah. Patung tembaga setengah badan Jenderal Besar AH Nasution menyambut pengunjung. Ruangan berukuran sekitar 6×4 meter dilengkapi dua set kursi. Pada sisi kiri terdapat kursi ukiran Jepara dan dipermanis dengan dua guci raksasa di pojokan. Satu set kursi kaki rendah berbentuk setengah lingkaran diletakkan di sisi kanan ruangan yang juga berfungsi menjadi kursi tamu. Beberapa plakat kenang-kenangan dari luar negeri dipajang di lemari kaca.

Masuk agak ke dalam adalah ruang kerja AH Nasution. Ada rak enam susun yang menampung buku-buku koleksi AH Nasution. Terdapat pula diorama yang menggambarkan Pak Nas, biasa ia dipanggil, sedang bekerja di meja kerjanya yang bergaya antik. Telepon khas jaman dulu ditambah mesin tik melengkapi meja tulis. Beranjak ke samping kanan, terdapat ruang tamu VIP dengan satu set kursi sofa. Gaya simpel menjadi pilihan ruang tamu yang disebut sebagai ruang kuning ini. Aksesori berbentuk harimau dipajang mempermanis ruangan. Foto si empunya rumah juga dipajang di dinding, baik ketika ia masih muda ataupun saat usia senja.

Memisahkan ruang kuning dan ruang kerja terdapat lorong panjang hingga ke ruang makan. Tiga patung cakrabirwa beradegan mendobrak kamar tidur Pak Nas ada di lorong tersebut. Patung itu menggambarkan adegan usaha penculikan. Lima lubang bekas peluru di daun pintu masih dibiarkan seperti aslinya untuk menunjukkan sejarah pemberontakan PKI. Di dalam ruangan, ada patung Bu Nas sedang memangku Ade Irma Suryani yang berlepotan darah. Di kamar tersebut juga ikut dipajang barang-barang pribadi Pak Nas, seperti kaus oblong, kursi goyang, dan kursi roda yang digunakannya saat sakit.

Ada pintu langsung yang menghubungkan kamar Pak Nas dan kamar Ade Irma. Nama terakhir merupakan salah satu korban dari PKI yang juga merupakan putri bungsu Pak Nas. Kamar Ade Irma menampung potretnya, baik bentuk lukisan maupun potret hitam putih sebagai kenang-kenangan. Sebuah lemari menampung benda pribadinya, yakni sepasang sepatu hitam, boneka, tas, dan seragam Kowad berpangkat Serda. Ada pula foto Ade Irma dan Piere Tendean, salah satu pahlawan revolusi, yang diambil seminggu sebelum kejadian.

Terakhir adalah ruang makan yang juga menampilkan cuplikan adegan dari penggerebekan Tjakrabirawa. Digambarkan lima orang berbaret merah menodongkan senjata kepada Bu Nas yang memangku Ade Irma. Mengutip kalimat terkenal Bung Karno yakni Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah, tempat ini bisa menjadi langkah awal untuk mempelajari salah satu hari kelam yang terjadi di Nusantara. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo ikut menyampaikan bahwa sejarah akan menentukan maju atau mundurnya suatu bangsa. Berkunjung ke museum ini, bisa menjadi cara menguatkan kembali ideologi Pancasila yang dikhawatirkannya sudah meluntur.

(berbagai sumber)

One thought on “Museum A.H.Nasution

  1. MUJI WAHYONO

    Sebagai rakyat Indonesia, saya sangat antusias ingin mengunjungi dan mengenang peristiwa kelam itu ( khususnya Ade Irma Suryani ). Pemerintah sudah sewajarnya lebih memperhatikannya.
    Semoga amal kebajikannya diterima disisi Alloh SWT. Amin
    M E R D E K A !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>