Kampung Serangan

Mengunjungi Kampung Serangan akan membuat anda semakin mengagumi keagungan keris, senjata tradisional sekaligus kerajinan yang kini telah diakui dunia sebagai salah satu hasil kebudayaan teragung. Anda dapat melihat aktivitas para penatah keris, satu profesi yang begitu penting dalam pembuatan keris namun kadang terlupa karena banyak orang terlalu mengagumi empu sang pembuatnya. Menikmati proses pembuatan beragam aksesoris keris adalah agenda paling tepat setelah melihat beragamn koleksi keris dan proses menghias keris. Anda akan semakin mendapat gambaran lengkap tentang bagaimana keris dan aksesorisnya diproduksi.

Melalui kampung Serangan ini diharapkan masyarakat tergugah untuk mengingat warisan budaya leluhur yang sangat berharga ini. Masyarakat perlu mengapresiasi keris karena selain memiliki bentuk yang indah, keris juga menyimpan nilai-nilai kehidupan yang dalam serta harapan dari pemiliknya. Kampung Serangan dapat dijangkau dengan berjalan ke arah barat dari perempatan Kantor Pos Besar, atau berbelok ke kiri bila anda berjalan dari Malioboro. Anda akan sampai ke kampung ini setelah melewatkan 2 traffic light dan berbelok ke kiri di sebuah gang yang terletak belakang kompleks terminal Serangan. Anda bisa menggunakan taksi atau naik bis jalur 9 dan 12 bila tak memiliki kendaraan pribadi.

Bila telah sampai di rumah para penatah keris itu, anda bisa melihat secara langsung proses menghias keris dengan ukiran-ukiran dan beragam pernik. Proses menghias ini biasanya dimulai dengan melebur dahulu bahan baku penghias yang dapat berupa perak atau emas. Selanjutnya, hasil peleburan ditempelkan pada permukaan keris dan ditatah dengan sesuai motif yang diinginkan. Sebelum penatahan dimulai, alas dari bahan aspal terlebih dahulu dibakar sehingga keris dapat menempel. Hal ini perlu dilakukan karena proses menatah atau membuat hiasan untuk satu keris bisa memakan waktu hingga dua bulan. Penatahan kemudian dilakukan dengan cara yang unik, hanya menggunakan alat-alat yang sangat tradisional, berupa palu dan satu set paku tatah dengan ragam bentuk.

Para penatah biasanya menghias keris dengan motih hiasan yang dikembangkan pada masa kejayaan kerajaan Jawa, mulai kerajaan Majapahit hingga Mataram. Motif-motif yang banyak digunakan antara lain motif bunga-bungaan yang melambangkan kejayaan suatu kerajaan hingga motif naga panjang yang melambangkan kemampuan untuk meluaskan wilayah jajahan. Hingga kini, belum ada inovasi motif baru dari para penatah. Selain hanya menggunakan alat yang sederhana, proses menatah keris juga tidak didahului dengan proses menggambar pola di permukaan keris. Para penatah hanya mendasarkan pada sketsa gambar yang dibuat di atas kertas. Tentu hal ini adalah kehebatan tersendiri sebab proses penatahan ini juga tak memberikan kesempatan untuk salah. Sekali saja melakukan kesalahan, keris yang begitu berharga bisa jadi tak bernilai lagi.

Selain mengamati proses menatah, anda juga bisa memesan keris dengan hiasan yang diinginkan. Anda bisa membawa keris yang sudah dipunyai untuk dihias ataupun memesan keris sekaligus hiasannya. Tentu untuk mendapatkan kualitas hiasan yang baik, anda harus membayarnya dengan nilai yang sepadan. Untuk memesan satu hiasan keris yang paling sederhana dengan bahan baku emas, anda mesti mengeluarkan biaya minimal 10 juta rupiah. Meski mahal, anda tak akan kecewa dengan hasilnya. Hasil tatahan para penatah keris di kampung Serangan telah dikenal kualitasnya hingga ke mancanegara.

Tatahan keris Prawirodiprojo misalnya, hingga kini telah menembus pasar Jerman, Belanda, Australia dan Amerika. Jika memesan, yang diperlukan hanya kesabaran, sebab anda mesti rela menunggu berbulan-bulan hingga pesanan sampai ke tangan anda karena waktu penggarapan yang cukup lama.

(yogyes)