Rumah Dome

Rumah merupakan salah satu kebutuhan primer manusia yang mau atau tidak mau harus segera di penuhi. Selain sebagai tempat untuk berteduh dari panas dan hujan, rumah juga berfungsi sebagai tempat untuk saling berinteraksi antara masing-masing anggota keluarga karena di dalam rumah lah tempat awal terbentuknya  sebuah keharmonisan. Bahkan ada pepatah yang mengatakan “Rumahku adalah Syurgaku”.

Di setiap daerah, terutama di Indonesia yang memang terdiri dari banyak suku dan budaya tentunya mempengaruhi bentuk rumah masing-masing suku. Di daerah Jawa sendiri kebanyakan rumah penduduk berbentuk persegi empat atau limas, biasanya dikenal dengan nama Rumah Joglo. Pemandangan berbeda akan kita temukan di daerah Nglepen, Sleman, Yogyakarta. Seluruh warga yang tinggal di sana memiliki rumah yang seragam dengan bentuk setengah lingkaran, sebuah bentuk rumah yang sangat jauh berbeda dengan rumah masyarakat jawa pada umumnya.

Rumah tersebut adalah Rumah Dome, bentuk rumah dome ini kalau dilihat-lihat mirip dengan rumah milik orang eskimo yang lebih dikenal dengan nama Rumah Iglo atau seperti Rumah Honai milik suku asli papua. Tetapi warga desa Nglepen dan sekitarnya lebih familiar dengan nama Rumah Telletubies, sebuah program serial TV anak di salah satu stasiun TV swasta beberapa waktu yang lalu.

Di Indonesia sendiri kompleks perumahan yang mengusung konsep rumah dome ini hanya ada di daerah Nglepen, bahkan di kawasan Asia tenggara hanya Indonesia yang memiliki konsep perumahan dome ini karena hanya ada 5 negara di dunia yang memiliki rumah dome yaitu, India, Nicaragua, Haiti, Paraguay dan terakahir adalah Indonesia. Warga setempat menamakan kompleks perumahan tersebut dengan nama New Nglepen Village seperti yang tertulis pada gerbang depan kompleks perumahan ini.

Asal Mula Berdirinya Rumah Dome

Keberadaan rumah dome di desa Nglepen, Sleman, Yogyakarta ini tidak lepas dari peristiwa tragis pada tanggal 27 Mei 2006. Gempa bumi yang berkekuatan 5,9 Skala Richter mengguncang Yogyakarta yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban dan kerusakan di berbagai tempat, dan satu daerah yang paling parah kerusakannya adalah Desa Sengir yang terletak di daerah perbukitan dimana tanahnya sempat ‘ambles’ sampai enam meter lebih dan rumah-rumah penduduk hancur. Karena sudah tidak layak huni lagi, warga Dusun Sengir direlokasi ke perkampungan baru, yang kini dikenal sebagai New Ngelepen.

Gempa yang teradi di Yogyakarta membuka simpati dari berbagai Negara yang tergabung dalam berbagai LSM. Salah satu LSM tergerak untuk membantu kondisi di daerah tersebut yakni LSM WANGO (Word Association of Non-Governmental Organization) dan DFTW (Domes for the Word Foundation) dengan memberikan sebuah cara rekonstruksi rumah tahan gempa yakni membangun rumah dome. Pada tanggal 10 Oktober 2006 pembanguan rumah dome dimulai dengan memilih lokasi daerah Nglepen yang mempunyai kontur tanah yang datar. Donatur tunggal pembangunan komplek rumah dome ini adalah Muhammad Ali Alabar pemilik Emmar Property Dubai dan di tempati warga pada akhir april 2007, warga menamai komplek perumahan ini dengan nama New Nglepen Village.

Keunikan Rumah Dome

Bentuk dan strukturnya yang unik memang mengundang kita untuk mencari tau segala hal tentang rumah dome ini. Bentuk rumah yang sengaja di buat setengah lingkaran tersebut bukan tanpa alasan, hal itu dimaksudkan agar bangunan lebih tahan terhadap gempa karena tidak adanya titik sambungan yang menjadi titik lemah suatu bangunan pada saat terjadi gempa. Cara pembangunan rumah dome juga sangat unik yakni dengan membuat cetakan  berbentuk balon (airform) kemudian di atas cetakan balon tersebut dicor beton semen. Selain tahan terhadap gempa, rumah dome ini juga tahan terhadap terjangan angin hingga 450 km/jam.

Pada waktu siang hari kompleks perumahan ini memang sangat panas, hawa panas yang meruap dari aspal jalanan membuat badan semakin berkeringat karena memang belum banyak pepohonan yang di tanam untuk penyejukan. Akan tetapi suasana berbeda akan kita temui jika berada di dalam rumah dome, meski terbuat dari beton yang tebal suasana rumah dome pada siang hari terasa sangat sejuk.

Jika siang sejuk karena aliran udara yang mengalir plus beton yang memantulkan panas, tak demikian jika malam. Konon, jika malam, rumah ini tak lagi sejuk. Untuk itu, di bagian atap beton, LSM Wango membuatkan semacam cerobong untuk sirkulasi udara dibagian atas rumah.

Ada sekitar 80 unit bangunan yang berbentuk rumah dome, 71 unit sebagai rumah hunian warga, 6 unit sebagai MCK yang digunakan bersama dan 3 unit sebagai fasilitas umum yaitu Mushalla, Poliklinik dan aula. Luas rumah yang digunakan sebagai tempat hunian rata-rata bergaris tengah 7 meter terdiri dari dua lantai dengan luas sekitar 38 meter persegi. Ruangan bawah terbagi atas 4 ruang yang biasa digunakan sebagai ruang tamu, ruang makan, dapur dan tempat tidur, sedangkan lantai 2 difungsikan sebagai ruang keluarga atau tempat tidur.

aula

poliklinik

mushalla

Untuk Mushalla dan aula dibentuk dengan diameter 9 meter dan hanya satu lantai, sedangkan rumah dome yang digunakan sebagai MCK komunal sedikit lebih luas, satu MCK disekat menjadi 8 bagian dan digunakan oleh 12 keluarga dalam satu blok. Namun demikian dalam perkembangannya masing-masing kepala keluarga memilih membangun kamar mandi sendiri di luar rumahnya. Mengenai kepemilikan tanah, untuk sementara ini warga menyewa dari pemerintah desa setempat dengan harga sewa antara 100.000 sampai 110.000 per tahun. Hal ini karena tanah yang ditempati dulunya adalah tanah kas desa.

Untuk menikmati kawasan ini anda harus membayar rp. 1.500 dan jika mengikuti paket kegiatan ditambah rp. 6.000. Dan jika ingin menikmati sensasi tinggal dirumah tersebut dapat menikmati paket homestay cukup dengan membayar Rp. 55.000 untuk menginap satu hari satu malam dan fasilitas makan tiga kali. Atau paket seni budaya seharga Rp. 200.000  anda akan di suguhkan pertunjukkan tradisional yakni randa tek-tek, Jathilan, Karawitan dan organ tunggal.

Akses

Kedaerah tersebut belum ada angkutan umum jadi disarankan menggunakan kendaraan pribadi, kalaupun menggunakan kendaraan umum hanya bisa sampai di jl. Raya prambanan piyungan dan sampai kelokasi masih harus jalan kaki sejauh 2,7 km atau dengan jasa ojek. Adapun dua rute yang dapat dilalui dari kota Yogyakarta yakni :

  1. Melewati Jalan Raya Yogya Solo, sesampainya di pertigaan prambanan belok kanan kearah piyungan sekitar 9 km aka nada penunjuk arah kea arah rumah dome yakni belok kiri.
  2. Melalui jl. Raya Yogya Wonosari, sesampainya di pertigaan pasar piyungan belok kiri. Setelah jarak  6 km akan ada penunjuk arah kearah rumah dome.

(Berbagai sumber)