Curug Malela

Lokasi wisata di Bandung, Jawa Barat, ternyata tak hanya wisata kuliner dan berbelanja. Jika bosan dengan keramaian, Anda juga bisa menikmati pesona air terjun Curug Malela di kawasan Bandung Barat. Tidak mudah untuk mencapai Curug Malela yang berada di Kampung Manglid, Kecamatan Rongga. Dari pusat Kota Bandung, setidaknya butuh waktu tiga jam. Jalannya pun cukup menantang. Tapi, semua itu sepadan dengan indahnya pemadangan di kiri-kanan jalan.

Puas menikmati hamparan hijau kebun teh, Anda akan memasuki Desa Cicadas. Ini adalah tempat pemberhentian mobil terakhir, karena selanjutnya wisatawan harus berjalan kaki sekitar dua kilometer. Perjalanan cukup berat karena masih berupa jalan setapak, lengkap dengan jembatan darurat yang menghubungkan sejumlah kali kecil.

Berdasarkan peta topografi, sungai yang jatuh sebagai Curug Malela setinggi lebih kurang 50 m dan lebar mencapai 70 m, adalah Cicurug. Toponimi sungai yang sesuai dengan sifat sungai ini yang banyak mempunyai air terjun. Hulu sungai berasal dari lereng utara Gunung Kendeng dengan bekas kaldera raksasanya yang berdiameter hampir 15 km. Dari gunung api yang terletak di sebelah barat Ciwidey yang telah mati ini mengalir jaringan Sungai Cidadap. Cidadap mengalir ke arah barat laut melalui Kecamatan Gununghalu menggerus rangkaian batuan keras yang umumnya berciri produk letusan gunung api tua.

Aliran Cidadap setelah melewati utara Bunijaya, kemudian mengalir dengan pola rektangular, yaitu suatu pola aliran sungai yang berbelok-belok secara tajam, bahkan tegak lurus. Alirannya ke arah barat yang kemudian bernama Cicurug mulai memasuki relief sangat terjal di suatu dataran tinggi yang dulu dinamakan Plateau Rongga. Suatu keniscayaan bagi sungai yang mengalir di atas plateau untuk kemudian pola alirannya terganggu oleh air terjun yang bertingkat-tingkat. Itulah yang terjadi pada aliran Cicurug. Selain Curug Malela yang terbesar, ke arah hilir terdapat beberapa tingkat air terjun yang dinamakan Curug Katumiri dan Curug Ngebul, sebelum sungai ini bermuara ke Cisokan.

Relief terjal Plateau Rongga memberikan medan terjal dengan lembah-lembah membentuk huruf V yang berkemiringan lebih dari 100% atau bersudut lebih dari 45 derajat. Itulah mengapa pengistilahan “dataran tinggi” menjadi kurang tepat karena jika kita menuju wilayah ini, kita akan menghadapi jalan yang turun naik berkelok-kelok. Di atas plateau ini ketika sungai-sungainya mengerosi daerah secara vertikal, lereng-lereng lembah selain menciptakan medan yang terbatas untuk dijelajahi, tapi dari sisi yang lain menciptakan lanskap yang memesona mata.

Beberapa puncak plateau mencapai ketinggian di atas 1.000 m di atas muka laut rata-rata membuat udara pada Plateau Rongga umumnya sejuk. Tata guna lahan adalah perkebunan dan hutan. Sejak zaman Belanda, wilayah ini diperuntukkan bagi perkebunan teh yang sekarang dikelola oleh PTP Nusantara VIII Montaya. Batuan yang membuat relief menjadi terjal dan kasar itu adalah batu breksi dan konglomerat berumur Miosen Atas, kira-kira diendapkan pada lingkungan peralihan darat dan laut pada waktu 10 hingga 5 juta tahun yang lalu. Sumbernya diperkirakan beberapa gunung api purbakala di selatan Jawa Barat yang aktif pada masa itu. Jenis batuan ini yang di Curug Malela sendiri tampak berlapis-lapis, bersifat sangat keras. Kesan yang timbul dari kerasnya batuan dapat dilihat dari morfologi batuannya yang memperlihatkan dinding-dinding tegak yang licin. Itulah yang nampak pada dinding Curug Malela yang terlihat begitu kokoh dan anggun.

Ketiadaan penunjuk arah sejak Kota Kecamatan Gununghalu membuat kita selalu bertanya kepada penduduk yang dilalui. Memang betul malu bertanya sesat di jalan, tapi kalau terlalu banyak bertanya karena ketiadaan penunjuk arah, pengelola daerahlah yang sesat di jalan birokrasinya. Jadi setelah banyak bertanya, jalan akan mengarahkan kita ke arah Bunijaya dan berbelok ke arah kanan di daerah yang dikenal sebagai Simpang Rongga. Jalan kemudian berkelok-kelok menyempit menanjak. Sekalipun beraspal baik, tapi lubang-lubang besar membuat kelancaran perjalanan terganggu. Di Kota Kecamatan Rongga, kita kembali dihadapkan pada persimpangan jalan dan terpaksa kembali bertanya. Jalan ke kiri yang diambil akan membawa kita ke daerah Kubang, Perkebunan teh Montaya. Jalan perkebunan asri yang diapit pohon-pohon mahoni dan damar membawa kita memasuki daerah perbukitan yang turun-naik berkelok-kelok pada jalan sempit. Beberapa kali kendaraan kita dapat langsung berhadapan pada kelokan sempit dengan kendaraan lain, atau terkejut ketika tiba-tiba pengendara ojek muncul di depan hidung kita dengan tiba-tiba.

Perjalanan dari Gununghalu ke Kubang Montaya yang hanya berjarak kurang dari 20 km terpaksa harus ditempuh antara 1,5-2 jam perjalanan kendaraan roda empat, dengan banyak bertanya. Dari Simpang Kubang ke arah Cicadas kita akan didera jalan batu yang berlubang-lubang. Perlu waktu hampir satu jam menempuh jarak pendek tidak lebih dari 3 km itu. Sesampainya di Cicadas bukan berarti Curug Malela telah ada di depan kita. Jalan berikutnya berupa jalan perkebunan yang tidak dapat dilalui mobil biasa harus ditempuh dengan cara jalan kaki. Perlu waktu kira-kira satu jam untuk akhirnya mencapai Curug Malela setelah menuruni jalan setapak terjal dengan beberapa lereng hampir 70 derajat. Sangat melelahkan. Silakan bayangkan jalan kembali melalui rute yang sama.

Dari sisi lingkungan, sebenarnya Curug Malela sangatlah rentan terhadap pencemaran. Jaringan hulu Cicurug yang berasal dari Cidadap melewati kota-kota kecamatan yang cukup padat, seperti Gununghalu dan Bunijaya. Sepanjang alirannya di wilayah permukiman Kecamatan Gununghalu, lembah Sungai Cidadap menjadi tempat pembuangan sampah, terutama dari rumah-rumah yang tumbuh di tepi sungai. Sampah-sampah itu terbawa aliran Cidadap untuk kemudian ikut jatuh di Curug Malela. Jangan heran jika di lereng-lereng bawah dekat air terjun itu kita akan mendapati tumpukan sampah-sampah plastik, sandal jepit, atau styrofoam.

(berbagai sumber)

7 Responses

  1. johan says:

    pantas di sebut niagara indon

  2. Revandhiya says:

    Sekedar tambahan info:” klo mau ke Curug malela dr Jkt, lebih dekat & cepat lewat Sukanegara (Cianjur Selatan). ±1km sblm kota sknegara ada per3an, ambil yg kebarat trus sampai Rongga belok kiri, kemudian stelah jembatan kayu akan bergabung dgn jalur yg dr bdg”. tks.

  3. admin says:

    Mister dan Mistres yang udah pernah ke Malela, mantap dah.. Kita juga pengen nih, doain ya.. amin

  4. Mira megasari says:

    Wiiih, bener bgt.. Sabtu kmrn jg saya ksana.. Biar kata ujan gede, tetep aja pesona alamnya tetap mempesona.. Segala cape, pegel, dingin krn ujan gede, langsung ilang begitu liat air terjunnya.. Seneng bgt, ga nyangka daerah bandung punya niagara sekeren ma lela..
    Kmrn sy ksana sm temen sy, dan ada 2 orang cowo yg nanya jalan, katanya tersesat, jangan2 tu mr.randi.. Hehehe.. Hidup berpetualang!!

  5. randi hadi says:

    keren banget ni curug,, kmrn sabtu saya kesana ,, walaupun tersesat gara2 salah jalan pas mw ke curugnya jadi muter akhirnya ,, heheheh?? tp keren banget lah,, walaupun kurang puas see sebenernya karena hujan gede bgt,, jadi air nya kotorr,, hihii keren lah itu curugg ,,, cuma akses jalan nya aja yang bikin cape hehehee

  6. bedul says:

    curug melela emang bagus bgt .

  7. sandra says:

    gw pengen banget ke malela sampe mimpi2.kl gw ada waktu gw pasti kesana………