TWA Situgunung

Taman Wisata Alam Situgunung yang mempunyai luas 100 ha adalah merupakan kawasan pelestarian alam bagian dari zona pemanfaatan intensif Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. TWA Situgunung terletak di kaki Gunung Pangraga pada ketinggian 950 – 1.036 meter dari permukaan laut. Keadaan tofografinya sebagian kecil datar, bergelombang sampai berbukit.

Flora
Kawasan ini mempunyai keanekaragaman flora, diantaranya adalah : Pulpa (Schima walichii), Rasamala (Altingia Excelsa), Damar (Agathis sp.), Saninten (Castanopsis argentea), Hamirung (Vernonea arborea), Gelam (Eugeunia fastigiata), Kisireum (Cleistocalyx operculata), Lemo (Litsea subeba), Beleketebe (Sloamea sigum), Suren (Toona sureni), Riung Anak (Castanopsis javanica), Walen (Picus Ribes), Merang (Hibiscus surattensis), Kipanggung (Trevesia sondaica), Kiputat (Placchonia valida), Karembi (Homolanthus populnea), Manggong (Macaranga rizoides). Selain jenis-jenis tersebut di atas, terdapat juga jenis Anggrek yang dilindungi, diantaranya yaitu : Anggrek Tanah Bunga Merah, Anggrek Tanah Bunga Putih dan Anggrek Bajing Bunga Kuning. Jenis Anggrek tersebut mudah di jumpai di tepi jalan setapak yang terletak di perbatasan antara TWA Situ Gunung dengan taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Fauna
Di kawasan TWA Situ Gunung terdapat 62 jenis satwa liar yang terdiri dari 41 jenis burung (11 jenis dilindungi), dan 21 jenis mamalia (8 jenis dilindungi). Jenis mamalia yang dilindungi di antaranya : Owa (Hylobates moloch), kucing hutan (Felis bengalensis), Anjing Hutan (Cuon alpinus), Trenggiling (Manis Javanica), Landak (Hystrix braychura), Surili (Presbytis comata), Kijang (Muntiacus muntjak) dan Kancil (Tragulus javanicus).

Adapun jenis mamalia yang mudah dijumpai adalah Bajing, Monyet ekor panjang, Lutung dan Babi Hutan. Jenis burung yang dilindungi di TWA Situ Gunung adalah : Elang Bondol (Haliastur indus), Alap-alap (Accipiter virgatus), burung Sesep made (Aethopyga eximia), burung Kipas (Riphidura javanica), Cekakak merah (Anthreptes singalensis), burung made Merah (Aethopyga siparaja), burung Cabe (Dicaeum trochileum). Sedang burung-burung yang mudah dijumpai adalah Kutilang. Betet ekor panjang, Prenjak Tuwu, Emprit, Cipoh, Kepondang, Tulung tumpuk dan Ayam hutan.

Potensi Wisata
Selain memiliki keindahan pemandangan hutan alam dan hutan tanaman, situgunung memiliki obyek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi yaitu:

  1. Telaga Situgunung: sebuah telaga buatan seluas 10ha dengan panorama yang indah dikelilingi bukit dan tegakan pohon damar.
  2. Air terjun : Air terjun Cimanaracun dan curug sawer salah satu keindahan alam yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya.

Sesuai dengan potensi yang dimiliki TWA Situgunung, maka wisatawan dapat melakukan kegiatan berupa:

  1. Wisata alam: berupa rekreasi dialam terbuka sambil menikmati keidahan, keunikan, kesejukan gejala dan panorama alam lainnya. Kegiatan lainnya yang dapat dilakukan adalah memancing, mendaki gunung (hiking), lintas alam, foto hunting, bersampan dan lain-lain.
  2. Wisata Konvensi: Lokakarya, workshop, rapt yang dapat dilakukan dilingkungan alam terbuka sambil berwisata.
  3. Wisata pendidikan: rekreasi dialam terbuka sambil belajar tentang alam dan lingkungan hidup disekitarnya. Sehingga dapat menanamkan rasa memiliki dan menyayangi alam.

Sejarah Kawasan
TWA Situgunung yang ditetapkan pada tahun 1975, memiliki potensi sumberdaya alam hayati berupa flora dan fauna serta mempunyai pemandangan alam yang menarik.Kawasan ini telah diteliti oleh beberapa peneliti bangsa Belanda yaitu diantaranya adalah: Reidwart(1819) Junghun(1839-1661) JE. Teysman (1839) AR Walace (1661) SH Koorders (1890) Treub (1891) Dr. Van Steenis (1920-1952) yang membuat koleksi tumbuh-tumbuhan sebagai dasar penyusunan sebuah buku berjudul “Mountain Flora of Java”.

Dalam perkembangan selanjutnya sebagai realisasi untuk mengikutsertakan Perum Perhutani Taman Wisata Tangkuban Perahu termasuk salah satu dari 18 lokasi Taman Wisata Pulau Jawa yang pengusahaannya diserahkan kepada perum perhutani. Dan pada tanggal 4 juni 1990 SK Dirjen tersebut dicabut/ diganti dengan SK Mentri Kehutanan No. 184/kptsII/1990.

Sebagai tindak lanjut dari keputusan tersebut maka disusunlah Rencana Karya Lima Tahun Tahap II sebagai dasar pelaksanaan selama lima tahun (1997-2001) yang terarah dan terinci. Sejak tahun 1990 hak pengusahanya telah diserahkan kepada perum perhutani Unit III Jawa Barat, dan sejak tahun 1997 di KSO-kan dengan PT. Shorea Barito Wisata.

Legenda Situgunung
Telaga Situgunung dibangun pada tahun 1817 oleh Rangga Jagat Syahadana yang lebih dikenal dengan nama Embah Jalun (1770-1841) sebagai perwujudan rasa bahagia dan bangga karena dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan dapat melanjutkan perjuangannya. Rangga Jagat Syahadana adalah seorang pejuang keturunan keluarga Raja Mataram yang berhaluan keras dalam menentang penjajah Belanda.

Karena ketidakpuasannya terhadap penjajah Belanda, kemudian beliau meninggalkan Mataram untuk bergabung dengan para pejuang dari Banten. Pada tahun 1808 Rangga Jagat Syahadana tiba di Cirebon dan menikah dengan seorang gadis dari kuningan. Selama melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda yang dilakukan dengan berpindah-pindah beliau pernah beberapa kali tertangkap yaitu tahun 1810 di Sumedang, tahun 1840 di Cisaat Sukabumi. Pada penangkapan terkhir Belanda telah memutuskan hukuman gantung disebuah lapangan yang sekarang menjadi Alun-alun Cisaat. Tapi berkat kesaktiannya beliau dapat melepaskan diri, dan memutuskan untuk pergi ke Banten dengan meninggalkan anak istrinya. Namun karena perjalan yang sulit serta usia yang telah lanjut akhirnya beliau jatuh sakit dan meninggal dunia di Bogor pada tahun 1841.Telaga situgunung kemudian diambil alih secara paksa oleh Belanda, dan dibangun secara paksa oleh Belanda, kemudian dibangun kembali pada tahun 1850. Dikawasan tersebut pernah dibangun perhotelan dengan nama Hotel Situgunung.

Fasilitas
Berbagai sarana untuk memberikan kenyamanan dan kepuasan wisatawan yang berkunjung di TWA Situgunung diantaranya telah tersedia:

  1. Pesanggrahan: tersedia 4 buah pesanggrahan dan sebuah gedung serbaguna yang dapat menampung 200 orang.
  2. Bumi perkemahan: Areal perkemahan seluas 5 ha dibawah tegakan hutan damar memiliki fasilitas berkemah yang cukup lengkap.
  3. Pusat informasi dan pelayanan: sarana ini dimaksudkan sebagai tempat memberikan penerangan dan informasi tentang kawasan serta peraturan-peraturan lainnya.
  4. Jalan setapak: jalan setapak yang dibuat dengan maksud untuk memperlancar dan sekaligus memberi petunjuk bagi wisatawan tentang potensi-potensi yang ada dalam kawasan, karena jalan setapak ini dibuat sebagai penghubung tempat-tempat yang mempunyai potensi dan atraksi wisata.
  5. Kafetaria: menyediakan dan melayani kenutuhan makanan dan minuman bagi wisatawan.
  6. Kios Cenderamata: sarana ini diperuntukan guna memenuhi kebutuhan wisatawan akan kenang-kenangan atau tanda mata.
  7. Shelter/kopel: Bangunan ini dapat dipakai sebagai tempat bersantai sambil menikmati pemandangan alam.
  8. Fasilitas lainnya: tempat parkir, musholla, MCK, dermaga, taman bermain dan teater alam.

Aksesbilitas
Lokasi TWa Situgunung dapat dicapai dengan mudah. Sarana yang tersedia untuk menuju lokasi dapat dilakukan dengan angkutan umum atau ojeg motor yang ada dikecamatan Cisaat. Jarak dari kota Sukabumi dengan TWA Siugunung 15km dengan waktu tempuh yang diperlukan sekitar 30menit.

Bila ditempuh dari Jakarta melalui jalan tol, jaraknya 100 km, membutuhkan waktu 1,5 jam, sedangkan bila dari Bandung jaraknya 106 km dapat ditempuh dalam waktu 2 jam.

(Berbagai Sumber)