Pantai Plengkung

Pantai plengkung “G-Land, The Seven Giant Waves Wonder” Julukan tersebut diberikan oleh peselancar asing untuk gulungan ombak di pantai Plengkung yang berlokasi di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Banyuwangi, Jawa Timur. G mempunyai tiga konotasi yang berbeda: Green, karna lokasinya di tepi hutan, Grajagan, nama point terdekat sebelum ada jalan melintas di hutan atau Great karna salah satu ombak yang terbaik di dunia. Apapun artinya, itulah julukan buat sebuah nama lokal bernama Plengkung.

Ombak Plengkung terbagi atas tiga tingkatan yaitu kong, speedis, dan many track. Masing masing ombak ini berada di area yang berbeda. Jenis ombak tingkat pertama yakni kong, ini merupakan ombak yang tingginya mencapai 6-8 meter. Ombak ini paling dicari oleh peselancar internasional. Tingkat kedua, dikenal dengan speedis mempunyai ketinggian antara 5-6 meter, Ombak jenis ini biasanya juga menjadi konsumsi peselancar professional. Kemudian, tingkat ketiga dikenal dengan sebutan many track dengan tinggi ombak sekitar 3-4 meter.

Ombak many track sebenarnya untuk pemula tetapi peselancar professional datang ke sini apabila ombak di Plengkung sedang tidak bagus terutama bulan Maret-Juni. Sementara bulan Juli sampai September ombak di Plengkung sudah mulai bagus. Di bulan-bulan inilah peselancar dari manca negara mulai berdatangan.

Bagi Anda yang ingin belajar berselancar jangan khawatir, di Pantai Batu Lawang adalah tempat yang tepat untuk belajar dan menjajal ombak many track. Lokasinya tidak jauh dari Plengkung. Jika ditempuh dengan jalan kaki memakan waktu kurang lebih 20 menit. Sehingga wisatawan mancanegara sering menyebut ombak di daerah tersebut dengan sebutan “twenty-twenty” yang artinya 20 menit mendayung ke tengah dan 20 menit menikmati titian ombak.

Tinggi ombak di Plengkung ini cenderung kurang tepat bagi peselancar pemula. Namun, Anda tak perlu cemas bila tidak bisa berselancar karena pemandangan alam kawasan ini sangat eksotik. Hamparan pantai berpasir putih yang diselimuti kawasan hutan yang masih alami, jauh dari kebisingan kawasan perkotaan, tak cukup sinyal handphone, tak ada lalu lalang kendaraan, tak ada pedagang kaki lima, dan tak pula terjangkau jaringan televisi. Semua itu telah menjadikannya Plengkung sebagai kawasan paling ideal untuk benar-benar menjauh sejenak dari peradaban.

Sementara di Taman Nasional Alas Purwo adalah tempat yang dikenal sebagai hutan hujan paling alami di Indonesia, bahkan mungkin Asia. Di Taman Nasional Alas Purwo, Anda dapat melihat banteng jawa, burung merak, babi hutan, rusa, dan hewan lainnya termasuk harimau jawa. Taman Nasional Alas Purwo selain surganya peselancar juga tempat yang bisa memuaskan kegemaran berpetualang menembus hutan, mengamati satwa di Sadengan dan berkunjung ke gua mistis.  Gua-gua tempat bermeditasi tersebut adalah Gua Istana, Gua Putri dan Gua Padepokan, selain Gua Macan yang dianggap memiliki nuansa mistis tinggi. Konon, di tempat tersebut presiden pertama RI, Ir Soekarno, pernah bertapa. Gua-gua tersebut dapat dicapai dari Pos Pancur sejauh 2 km dengan berjalan kaki. Dengan alasan inilah, mendengar nama Alas Purwo, selalu terbayang sebagai kawasan angker.

(Berbagai Sumber)

1 Response

  1. robit says:

    mantab, mantab, mantab…
    nice info…
    i like this so much…