Danau Kelimutu

Danau Kelimutu berupa tiga danau dengan warna permukaan yang berbeda-berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Walaupun begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu. Danau ini berada di ketinggian 1.631 meter dari permukaan laut. Danai ini semakin populer sebagai tempat tujuan wisata.

Kelimutu merupakan gabungan kata dari “keli” yang berarti gunung dan kata “mutu” yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.

Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna–warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau“Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau“Tiwu Ata Polo” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Jumlah wisatawan ke sana semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hanya saja, meningkatnya jumlah wisatawan yang datang juga menyumbang dampak negatif. Kepala Resor Taman Nasional Danau Kelimutu, Mansur mengemukakan, dampak negatif itu berupa sampah yang ditinggalkan wisatawan. ”Meskipun, saat ini kesadaran wisatawan untuk tidak meninggalkan sampah semakin tinggi. Akan tetapi, masih saja ada pengunjung yang membuang sampah sembarangan”.

Jumlah pengunjung per tahun pada tahun 2011 dan 2012 sekitar 12.000-15.000 orang. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, jumlah pengunjung sekitar 9.000 orang per tahun. Untuk masuk ke kawasan Danau Kelimutu ini, wisatawan harus membayar retribusi. Untuk wisatawan domestik, setiap orang membayar Rp 2.500, mobil Rp 6.000 per unit, dan sepeda motor Rp 3.000 per unit.

Adapun untuk wisatawan asing sebesar Rp 20.000 per orang. Sepanjang tahun 2012, Taman Nasional Danau Kelimutu menyetorkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 800 juta. Dana pungutan retribusi itu disetorkan seluruhnya ke Kementerian Kehutanan.

Akses ke Kawasan ini yaitu dari ibukota Propinsi NTT, yakni Kupang, menggunakan pesawat menuju kota Ende, di Pulau Flores, dengan waktu tempuh mencapai 40 menit. kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkutan umum berupa mini bus, menuju Desa Kaonara, yang berjarak 93 km, dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Dari Desa Koanara menuju Puncak Danau Kelimutu, berjalan sepanjang 2,5 km.

Sebagai salah satu objek wisata andalan , maka akomodasi di sekitar danau cukup diperhatikan. Di sekitar danau terdapat pondok jaga, shelter berteduh untuk pengunjung, MCK, kapasitas lahan parkir , serta beberapa losmen kecil .

Pesona Danau Kelimutu yang warna-warni adalah pemandangan langka di dunia. Kelimutu menyuguhkan pemandangan yang unik, sangat mengesankan, inilah karunia Tuhan