Gedung Marabunta

Gedung Marabunta yang terletak di kota Semarang ini awalnya bernama Schouwburg. Schouwburg merupakan satu-satunya bangunan pertunjukan berbentuk bulat telur yang punya arti penting dalam perkembangan budaya di Semarang. Sebagai salah satu Bangunan Kuno di Kota Semarang, Gedung Marabunta memiliki ciri yang unik, yaitu adanya patung semut raksasa di atapnya. Tanggal didirikanya bangunan ini belum dapat dipastikan, tetapi ada beberapa dugaan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan. Pada tahun 1854 di kalangan masyarakat Eropa berdiri sebuah pementasan tetap yang dikatakan berlangsung sebulan sekali.

Bentuk bangunan itu berbeda dari gedung pertunjukan di tempat atau kota lain yang pada umumnya bergaya klasik. Kedudukannya dalam lingkungan Kota Lama pun tak kalah penting, sebab ia menjadi salah satu unsur pelayanan umum dan kesenangan para penghuni. Demikian penting sehingga jalan di depan Gedung Schouwburg kemudian dinamakan Komidie straat.

Kemungkinan besar Marabunta sudah ada pada masa itu dan dipakai oleh perkumpulan ini dan perkumpulan yang lain untuk mementaskan karya seni drama. Dugaan ini diperkuat oleh gaya bangunan lengkung busur dan kolom langsing yang ada di dalam auditorium merupakan dua hal yang digemari pada sampai dengan akhir abad yang lalu. Sistem dinding menyangga dan pasangan bata rollag di atas ambang pintu maupun jendela juga dapat memperkuat dugaan tersebut.

Bagaimanapun, Marabunta mempunyai arti penting dalam perkembangan seni pentas terutama drama, tari dan musik di Semarang. Gedung cantik Marabunta ini pernah menjadi tempat pertunjukan seorang spionase wanita cantik bernama Matahari. Pada awal kemerdekaan setelah tidak dipakai lagi sebagai gedung pertunjukan, gedung ini ditempati oleh yayasan Empat Lima, yang anggotanya antara lain almarhum mantan presiden Suharto dan almarhum Supardjo Rustam. Yayasan ini kemudian berganti nama menjadi Yayasan Kodam.

Semut Besar
Dalam perkembangannya, nama Marabunta lebih kerap digunakan untuk menyebut gedung tersebut lantaran adanya sebuah patung semut yang terpacak di dinding bagian depan.

Seperti kita ketahui, Marabunta adalah nama sejenis semut besar. Fungsi Schouwburg sebagai gedung pertunjukan berakhir pada masa awal kemerdekaan. Ia digunakan sebagai kantor Yayasan Empat Lima yang anggotanya antara lain mantan presiden Soeharto dan almarhum Supardjo Rustam. Yayasan itu kemudian berganti nama menjadi Yayasan Kodam.

Pada tahun 1995, sebagian Gedung Marabunta direkonstruksi, kemudian dibelah menjadi dua bagian. Oleh pemiliknya saat itu, beberapa plafon dan tiang dari ruang pertunjukan tonil yang terletak di sisi utara diboyong ke sisi selatan. Kontraktor yang melakukan rekonstruksi, Nasution, mengatakan, panggung pertunjukan semula menghadap ke utara.

Hasil rekonstruksi Nasution kini dapat dinikmati di Marabunta baru yang berada di sebelah selatan. Kedua bangunan itu kini disekat dengan tembok baru. Demi mempertahankan keaslian bagian-bagian cagar budaya itu, Nasution mempertahankan plafon dan tiang seperti aslinya. Ia memasang satu per satu, menyatukan bagian-bagian, mirip menyatukan puzzle. Ia menambahkan, sentuhan lukisan kaca yang menceritakan artis tonil kala itu untuk mengentalkan nuasa Eropa dalam Gedung Marabunta yang baru.

Bangunan Kuno Gedung Marabunta Semarang
Jl. Cendrawasih 23, Semarang