Gunung Nona

Panorama alam nan hijau menyambut pengunjung begitu memasuki kawasan Bumi Massenrempulu, julukan Kabupaten Enrekang, yang berjarak sekitar 270 kilometer dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Suguhan pemandangan Gunung Nona yang selalu mempesona, agrowisata, dan suasana desa yang bersahaja bisa menjadi pilihan liburan nan tenang. Gunung Nona dalam bahasa Massenrempulu disebut Buttu Kabobong, yang berarti sesuatu yang selayaknya disembunyikan. Jika diartikan per kata, buttu berarti gunung, sedangkan kabobong berarti erotik.

Berada di sisi kanan jalan jika kita akan ke Tana Toraja dari arah Kota Enrekang, terletak di Desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja. Gigir gunung yang berlipat-lipat kerap kali diasosiasikan mirip alat kelamin wanita, sehingga dinamakan Gunung Nona. Mendengar nama gunungnya, membuat banyak orang penasaran dan menjadi salah satu daya tarik Enrekang.

Ketinggian gunung, atau lebih tepatnya bukit, berkisar 500 meter dari permukaan laut, berada di kaki Buttu Bambapuang. Berdasarkan hasil penelitian geologi, gunung ini terbentuk melalui proses cukup panjang dari batu pasir di dasar laut yang terangkat akibat tumbukan lempeng benua.

GunungPemandangan Gunung Nona bisa kita saksikan dari Vila Bambapuang, yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Enrekang. Berbagai suguhan makanan khas tradisional bisa menjadi pilihan, di antaranya dangke, keju khas Enrekang, pulu mandoti, beras ketan merah yang kenyal dan wangi, serta nasu cemba, masakan daging sapi atau kerbau yang disajikan berkuah dengan rasa segar dari daun cemba alias asam. Selain restoran, ditempat ini disiapkan fasilitas kamar yang berhadapan langsung dengan Gunung Nona. Suasananya sangat tenang, cocok untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Tarifnya ada dua pilihan, yakni untuk deluxe Rp 380ribu semalam & executive Rp 550ribu semalam.

Tak hanya suguhan panorama nan hijau, di sisi kiri jalan kita juga bisa menikmati pemandangan gunung batu nan terjal. Gunung Bambapuang, yang memiliki ketinggian 1.157 meter di atas permukaan laut, dipercaya masyarakat sebagai tangga penghubung dari bumi menuju langit.

Salah satu kawasan di lereng Bambapuang juga dipercaya sebagai tempat peradaban manusia Sulawesi Selatan bermula. Masyarakat Bugis sangat menghormati tempat itu. Mereka menyebutnyatana ri galla tana riabbusungi atau negeri suci yang dihormati. Sepanjang jalan menuju Bone-bone, mata dimanjakan oleh pemandangan hijau, ada juga dinding batu yang tegak menjulang, mirip papan tulis raksasa. Di antara dinding itu, ada yang dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan mayat. Sejumlah peti mayat alias duni berbahan kayu tampak masih tersimpan di celah-celah batu. Tempat penyimpanan mayat itu mirip dengan di Toraja. Tapi, sejak masyarakat Massenrempulu memeluk Islam, makam ini sudah tidak digunakan lagi. Sekarang, tempat ini menjadi obyek wisata.

Hawa sejuk pegunungan langsung menyergap. Dan, lagi-lagi, pemandangan alam memukau didepan mata. Petak-petak sawah terasering terhampar bagai undak-undakan, diantaranya ada landa—lumbung beras khas Enrekang. Landa sudah menjadi pemandangan di desa-desa di Enrekang sejak ratusan tahun lalu. Bentuk rumah panggung ini menjadi tempat cadangan makanan, menjaga kemungkinan terjadi kekeringan dan bencana, serta sebagai tabungan untuk menggelar prosesi adat, seperti pernikahan dan kematian.

Tetap memanfaatkan potensi alam, saat ini pemerintah daerah Enrekang sedang mengembangkan Kebun Raya yang luasnya mencapai 300 hektare, di Dusun Malino, Desa Batumila, Kecamatan Cendana, dan Maiwa. “Didalamnya ada berbagai jenis tanaman endemik Sulawesi,” kata Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung.

Ada danau kecil dan pohon-pohonnya mulai besar. Dua atau tiga tahun lagi suasana Kebun Raya Enrekang yang berada di sisi kiri jalan akan rampung dan Anda bisa memasukkannya dalam daftar tempat yang akan dikunjungi saat menyisir Pulau Celebes.

Sumber : tempo