Pulau Kenawa

Pulau Kenawa, salah satu pulau kecil di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Belum banyak yang tahu tentang pulau ini. Atau mungkin belum menyadari bahwa ada pulau seperti ini di Sumbawa, karena masih minimnya informasi dan sarana serta prasarana yang ada di sana. Padahal, pulau ini menyimpan banyak sekali kekayaan Nusantara yang harusnya bisa dibudidayakan dan dikenalkan kepada masyarakat.

Perjalanan menuju ke Pulau Kenawa diawali dengan menaiki kapal feri dari Pelabuhan Kayangan di Kabupaten Lombok Timur yang menempuh 1-2 jam perjalanan menuju Pelabuhan Poto Tano di Sumbawa Barat. Pelabuhan Poto Tano sungguh di luar dugaan, pemandangan pelabuhan pada umumnya yang penuh hiruk pikuk, kotor, dan berisik. Di pelabuhan ini, masih terdapat banyak estetika dan keindahan alam yang alami seperti airnya yang masih biru dan jernih, walaupun terdapat di pelabuhan utama di pulau ini.

Dari pelabuhan, lalu berjalan kaki selama 10 menit menuju pelabuhan nelayan, karena tidak ada kapal besar yang menyediakan jasa transportasi menuju Pulau Kenawa. Nelayan di sana pun ternyata sangat ramah dan bersahabat. Dengan pekerjaan sehari-hari menangkap ikan dan juga beternak, mereka membuat pemukiman di sekitar pelabuhan dengan rumah-rumah yang dibangun di atas air. Namun untuk mendapat air tawar bersih, mereka harus membeli air lagi karena di sana pasokan air tidak sampai ke rumah mereka, sehingga kebutuhan memasak dan mandi sangat terbatas.

Untuk menyeberang ke Pulau Kenawa ini bisa menyewa perahu dengan tarif Rp 350.000 – Rp 400.000 untuk perjalanan pulang pergi tanpa batas waktu. Cukup murah jika dibandingkan dengan satu perahu yang bisa memuat 10-20 penumpang sekali angkut. Perjalanan menuju Pulau Kenawa kurang lebih 25 menit. Namun dari kejauhan bisa melihat pulau kecil tersebut dengan dermaga kayu yang khas, tepat berada di tengah pulau.

Sampai di Pulau Kenawa, yang memiliki pemandangan yang indah, dengan pasir putih terhampar di setiap sisinya, dan di tengahnya terdapat padang rumput dengan ilalang tinggi, sungguh pemandangan yang menakjubkan. Pulau Kenawa merupakan pulau kecil tanpa penduduk yang mempunyai luas kurang lebih 15 hektar, terhampar dataran rendah kecuali satu bukit kecil di bagian tengahnya. Di sekeliling pulau ini dibangun saung-saung kecil sederhana, untuk duduk dan menggelar tikar.

Ternyata di siang hari cukup banyak orang berkunjung ke sini, namun sebagian besar adalah orang lokal di sekitar Lombok dan Sumbawa, karena belum banyak orang yang tahu tentang pulau ini. Selain tidak berpenghuni, pulau ini juga belum mempunyai sumber listrik dan air bersih, yang mengakibatkan tidak tersedianya prasarana seperti toilet dan penginapan. Kondisi cukup sulit, jika ingin menginap di sana, tanpa penerangan, dan tanpa air bersih.

Menantikan sunrise Pulau Kenawa yang ternyata, sungguh sulit dideskripsikan oleh kata-kata. Matahari muncul di balik hamparan awan-awan yang besar, sedikit terhalang oleh gunung-gunung di pulau seberang yang membuat pemandangan menjadi lebih dramatis. Tidak hanya pemandangannya, Pulau Kenawa juga memiliki kekayaan laut yang melimpah. Dengan pantai pasir putihnya dan kerang-kerang yang bertebaran di pantai, ada juga menemukan binatang-binatang laut seperti kepiting kecil dan bintang laut yang unik.

Dari jarak 3-5 meter dari pantai, sudah bisa menikmati snorkeling hanya dengan kacamata renang, karena kedalaman pantainya yang tidak seberapa. Sebuah pulau yang terpencil ini mampu mengubah banyak sudut pandang, saat melihat begitu indahnya ciptaan Yang Kuasa. Tak mampu berkata-kata. Hanya memandang takjub.

Sayangnya, pulau ini masih belum mendapat banyak perhatian dari pemerintah. Dibuktikan dengan adanya bangunan WC setengah jadi dengan bak air penuh sampah, dan saung-saungnya yang cenderung ditinggalkan turis-turis tidak bertanggung jawab dengan sampah-sampah makanan. Pengalaman ini membuat kami lebih menghargai alam. Menurut saya, pulau ini mempunyai prospek yang cerah sebagai destinasi wisata alami di Indonesia, bila didukung dengan penanganan yang tepat dari pemerintah, dan tentu saja aksi dari masyarakat sendiri. (kompas)