Hobi mancing yang sangat digemari oleh pemancing yang satu ini pada awalnya sempat tidak mendapatkan restu dari keluarga tercinta. Tetapi karena keinginan yang sangat kuat akhirnya keluarga pun memberikan SIM (Surat Izin Mancing) nya kepada pria yang sehari-harinya bekerja sebagai karyawan swasta di suatu perusahaan. Dengan turunnya SIM dari keluarga tercinta, kegiatan mancing lebih terasa mengasyikkan.
Pria yang memiliki nama lengkap Andi Asri Syamsuddin ini patut berterima kasih kepada pamannya. Karena beliaulah yang mengenalkan dengan mancing pada saat kelas 1 SMP di Papua tepatnya di kota Nabire, kebetulan juga tempat tinggalnya dekat dengan pelabuhan. Piranti mancing pertama yang dimiliki adalah senar mono (pada saat itu belinya gulungan seharga 2500 perak/ 50 m) gulungan line dari kayu yang di buat sendiri menyerupai botol guci kecil ditambah kail dan pemberat (busi dan baut), itulah alat mancing pertama saya. Kata pria yang berzodiak Aries ini.
Menambah banyak teman, membuat diri menjadi lebih semangat dan percaya diri yang pasti melatih kesabaran itulah yang membuatnya tertarik dengan mancing. Hari sabtu dan minggu merupakan jadwal rutin mancingnya, pria kelahiran Bone ini lebih memilih mancing di laut ketimbang mancing di sungai alasannya pada saat mancing di laut sekalipun dapatnya ikan kecil tapi bisa memberikan perlawanan yang memberikan sensasi tersendiri pada saat strike, berbeda dengan ikan sungai yang perlawananannya cuma sedikit saat strike. Tidak ada yang membuatnya kesal dalam hal mancing walau sekalipun pulang ngga bawa ikan, cuma harus tetap ada yang dibawa sampai ke rumah untuk oleh-oleh buat menyenangkan orang di rumah (biar SIMnya ngga dicabut), katanya sambil tertawa.
Banyak kejadian mancing yang pernah dialaminya termasuk kebelet mancing padahal sudah jam 09.00 malam, untung sang isteri tersayang memberikan lampu hijau untuk berangkat. Kemudian berangkatlah menuju lokasi yaitu Tanjung Limau dengan berbekal umpan yang telah disiapkan. Sampai di lokasi ternyata lampu penerangan di pelabuhan sudah padam, memasang tackle hanya menggunakan bantuan sinar Hp karena lupa membawa senter. Bukan itu saja, pada saat asyik-asyiknya mancing dikagetkan dengan suara botol yang jatuh dari samping jembatan, ternyata disitu ada pemabuk yang sedang menikmati Miras. Sambil berharap-harap cemas agar tidak diganggu, malah dimintai uang oleh pemabuk untuk beli minuman terpaksa untuk menghindari keributan uang 50 ribu melayang. Tapi setelah itu akhirnya bisa mancing dengan tenang sampai jam 12 malam dengan hasil ikan kerapu dan ketambak.
Rencana untuk menurunkan hobi mancing kepada anaknya pun sudah ada, akan tetapi menurut dia “untuk saat ini hanya untuk memperkenalkannya dulu dengan mancing, jika seandainya nanti mempunyai hobi yang berbeda paling tidak bisa menemani saya mancing”, ucapnya. Saat ini pria yang memiliki nick name Ari ini mempunyai keinginan untuk menaklukkan ikan Tenggiri di atas 15Kg. Untuk itulah jika ada waktu luang dia bersama teman seperjuangannya selalu menyempatkan diri untuk mancing bersama dilaut.
Pak Ari juga berbagi cerita tentang pengalamannya mengikuti lomba mancing untuk pertama kalinya yang diadakan oleh kantor tempat dia bekerja, yang sampai sekarang masih terkenang. Saat itu dari kantor ada lomba mancing dalam rangka perayaan bulan K3, Karena baru pertama kali mau ikut lomba akhirnya om google tiap malam menjadi teman untuk mencari informasi di internet. Awal awal browsing sempat kepikiran ,ini ikan mas makanannya koq bahannya mahal mahal ya… tapi karena niat untuk bisa ikut lomba dan berharap menang maka setiap malam bersama om google saya mencari berbagai ramuan ramuan jitu untuk ikan mas, akhirnya dapat empat jenis resep yang mungkin bagus untuk lomba ikan mas.
Keesokan harinya sepulang kerja saya langsung berburu bahan bahan hasil browsing di internet dan malam harinya bersama istri mulailah kami meramu satu persatu umpan umpan ini, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12.00. acara meramu umpan dilanjutkan pukul 6 pagi sekaligus persiapan tackle untuk lomba besok. Tapi begitu mau berangkat menuju arena ternyata hujan gerimis, tapi karena dorongan dari istri kami bertiga bersama putra kecilku (umur 1 tahun) menuju kolam pemancingan. Di tengah jalan hujan makin deras, akhirnya kami berteduh sejenak menunggu hujan reda, tapi bukannya reda hujan malah tambah deras. Setelah menunggu setengah jam hujan mulai mereda dan kami bergegas melanjutkan perjalanan karena sudah pukul 08.00 sementara lomba mulai pada jam tersebut.
Rintangan datang lagi, umpan dan joran saya jatuh ke jalan karena sangkutan di motor terlepas, umpan yang sudah diramu hancur leleh tidak bersisa bersama air hujan di aspal, emosiku seketika meledak tapi kesabaran dan semangat dari istri mampu meredakannya, kami tetap lanjut ke arena lomba dengan sisa beberapa umpan yang masih berupa bahan, sementara putra kecilku mulai bersin bersin, kasian anakku. Sesampainya di kolam lomba, saya sudah terlambat, pemancing lainnya sudah pada menikmati sensasi strike.. hingga akhirnya selesai lomba tak satupun ikan yang naik dari pancingku, karena Cuma dapat umpan roti dan nagasari hasil minta sama teman.. harapan menang hilang tapi keluarga kecilku tersenyum puas dan semangat masih tetap disana menyertaiku. Pengalaman yang tak terlupakan . thanks buat keluarga kecilku.
| Nama Pekerjaan Alamat Member sejak |
: Andi Asri Syamsuddin : Karyawan swasta : Jl. Selat Malaka 1 No.23. RT 10. Kelurahan Tanjung laut. Kota Bontang. KALTIM : 12 Februari 2010 |



