Mustafilah, pemancing kelahiran Dabosingkep-Riau ini sudah menyukai memancing sejak kecil. Pemancing yang kerap disapa Imus ini sangat ingin menaklukan ikan Tenggiri, GT dan Tuna. Imus yang sehari-hari berprofesi sebagai karyawan disebuah perusahaan swasta ini selalu menyempatkan diri untuk memancing setiap minggunya. Selain mendapat dukungan keluarga untuk hobinya itu, Imus juga sangat berkeinginan menurunkan hobinya kepada anak pertamanya yang menurut Imus memiliki hobi yang sama dengannya yaitu memancing.
Pemancing yang pernah mencoba keberuntungannya di daerah Dabosingkep, Bangka Belitung, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Selatan ini lebih menyukai memancing di laut dibandingkan di kolam, meski terkadang harus pulang dengan tangan kosong (Boncos). Meskipun pemancing yang menyukai teknik jigging dalam mengaplikasikan hobinya ini belum pernah mengikuti perlombaan mancing, namun ia memiliki pengalaman memancing yang dirasanya sangat berkesan dan tidak dapat terlupakan saat ia masih bujangan (belum menikah).
Pada sekitar tahun 2000, Imus yang saat itu masih berstatus pemancing pemula mencoba keberuntungannya di Bangka Belitung tepatnya di daerah Lepar Pongok. Imus tidak sendiri, ia ditemani seorang temannya yang lebih senior. Meski hanya menggunakan alat pancing yang sederhana atau bisa dibilang tradisional, mereka berhasil membondong ikan kerapu, kakap, dll. Saat dirasa ikan sudah mulai sepi, Imus mengganti pancingnya dengan alat pancing yang lebih besar, dan mengkaitkan satu ekor cumi (3 ekor 1 kg) sebagai umpan. Tidak berselang lama, ia merasakan tarikan yang sangat kuat pada pancing yang diletakkan disamping kanannya itu.
“Saat sedang asyik-asyiknya berbincang dengan teman saya, tiba-tiba pancing saya ditarik ikan dan tarikannya sangat kencang, karena saya yang saat itu masih pemula, saya pun kewalahan menghadapi perlawanan ikan yang sangat kuat” terang pemancing yang pernah menghabiskan budget hingga Rp 19.000.000,- dalam setahun untuk membeli piranti pancing ini. Karena sudah merasa tak sanggup, ia pun menyerahkan pancingan kepada temannya yang lebih senior. Keputusan Imus mengoper pancing kepada temannya tersebut merupakan keputusan yang tepat karena temannya tersebut dinilai cukup cekatan dalam bertarung menghadapi perlawanan ikan, pertarungan berlangsung selama 2 jam sampai akhirnya ikan tersebut menyerah.
Karena senar yang digunakan tidak terlalu kuat, temannya kemudian merakit sebuah tali nilon besar yang ditujukan untuk menjerat leher ikan tersebut yang ternyata ikan hiu putih. Saat ikan yang terpancing itu sudah terlihat lemah dan mendekati kapal kira-kira 20 cm dari permukaan air, temannya dengan spontan langsung memerintah Imus untuk segera menjerat leher hiu putih itu dengan tali yang sudah disiapkan. “Ya maklum, saat itu saya juga belum pernah melihat gigi ikan hiu yang sebesar itu, spontan saya kaget dan langsung membatalkan perintah teman saya” jelas pemancing yang meraih Best Buyer bulan Desember 2010 dari IFT Fishing Store ini.
Karena Imus tidak melakukan tugasnya dengan segera, ikan pun kembali melakukan perlawanan, namun perlawanan tersebut tidak berlangsung lama. Begitu ikan sudah mencapai permukaan, pancing kembali diberikan kepada Imus untuk menahan perlawanan ikan, sementara temannya mengambil alih tugas menjerat yang sebelumnya diberikan kepada Imus. Dengan ilmu dan keahlian yang dimiliki, hiu putih pun dengan mudah terjerat. Meskipun telah berhasil dijerat, ikan hiu tetap memberikan perlawanan yang membuat mereka kewalahan karena perahu yang digunakan hanya sejenis pompong kecil.
Dalam kepanikan tersebut, Imus memutuskan mencari pentungan dan memukul kepala hiu hingga tak berdaya. Karena ukurannya yang cukup besar ikan tersebut tidak dapat diangkat ke dalam perahu, hingga akhirnya diputuskan untuk mengikat hiu tersebut didepan haluan. Sepanjang perjalanan menuju pantai mereka pun terus berbincang-bincang tentang kejadian yang baru saja dialaminya. Sesampainya mereka dipantai, para tengkulak langsung menghampiri dan menawar hiu putih itu dengan harga Rp 1.000,- per Kg. “Saya langsung teringat kejadian sebelumnya, jikalau tangan saya yang kegigit hiu tadi ongkos berobatnya jauh lebih mahal” kenangnya. Akhirnya dengan terpaksa Imus dan temannya menyerahkan hiu putih tersebut kepada para tengkulak dengan harga Rp 80.000,- (berat ikan hiu putih: 80 kg).
“Pengalaman akan Perlawanan ikan tadi memang tidak sebanding dengan harga yang diterima, tapi hobby telah mengalahkan segalanya” Motto si Pemancing.
| Nama Pekerjaan Alamat Member sejak |
: Mustafilah : Karyawan swasta : Jl. Karang Anyar Permai II Komp Puncak Raya Balitra RT/RW 043/001, Banjarbaru, Kal-Sel : 15 November 2010 |

