Penakluk Hiu Pari

Oktama Tija

Rasa penasaran karena melihat orang mancing, itulah awal perkenalan bapak muda ini dengan mancing. Disaat anak-anak lain masih bermain dengan mobil-mobilan dan boneka, pria yang memiliki nama lengkap Oktama Tija ini sudah mulai menyukai mancing. Sampai sekarang hobi itu terus berlanjut, bahkan kini ia mulai mengajarkan anaknya yang baru berumur 4 tahun untuk mancing. Tidak tanggung-tanggung anak kesayangannya itu langsung diajak casting bawal 4 kg-6 kg, meskipun akhirnya dia menyerah narik dan memberikan joran kepada ayahnya karena tidak kuat narik ikannya.

Bagi pria yang sekarang berdomisili di Jayapura ini, memancing itu hanya untuk fun bukan untuk nyari duit ataupun ikan. Jadi walaupun boncos saat mancing, tidak membuat dia kapok untuk mancing kembali, malahan itu menjadi pelajaran untuknya supaya lebih memperhatikan kondisi lokasi mancing dan alam sekitarnya untuk meminimalkan boncos pada saat mancing kembali. Dia juga mengatakan, “boncos boleh, tetapi strike mesti ada walaupun nantinya mocel,putus atau gagal hook up”, tambahnya.

Hobi mancing yang digemari oleh pria yang sehari-harinya bekerja sebagai IT di salah satu perusahaan swasta ini juga mendapatkan dukungan dari isterinya, dia mengatakan,”Bini gw ngga pernah komplain kalau gw mancing, malah disangoni juga”. Katanya sambil tertawa. Dalam menjalankan hobi mancingnya pria yang memiliki nama panggilan Oktama ini, tidak selalu pergi mancing tiap minggunya. Biasanya dia menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, banyak atau tidaknya kerjaan kantor, walaupun terkadang dia tetap berangkat juga walaupun kerjaan menumpuk, “buat obat stresss”, katanya.

Mancing kolam ataupun mancing laut baginya sama enaknya, pada saat mancing kolam menggunakan light tackle dan fight ikan besar (3kg keatas) juga punya sensasi tersendiri, sedangkan kalau dilaut, juga sama tapi target ikan minimal 7kg keatas. Karena menurutnya sensasi pada saat strike adalah suatu moment yang tidak akan bisa terbayarkan dengan apapun, terutama waktu strike ikan-ikan besar. Dan rasa penasaran yang timbul jika tidak berhasil strike, membuatnya untuk tetap terus mancing.

Semua teknik mancing ia sukai, karena dia selalu menyesuaikan dengan kondisi lapangan pada saat mancing, jika jigging menghasilkan ya nge-jig, jika casting menghasilkan ya casting, dll, tapi yang pasti dasaran selalu di gunakan. Jadi wajarlah kalau pria yang pernah berkelana dari jayapura, Yogyakarta dan Jakarta untuk mancing ini pernah mengangkat Hiu Pari dengan bobot lebih dari 20 kg, bahkan sempat merusak timbangan miliknya karena kapasitas timbangan maksimal hanya 20 kg.

Teman-teman mancingnya pernah memberikan usulan kepadanya untuk membuat club mancing dan diketuai oleh dia sendiri karena didaerah tempat dimana ia tinggal sekarang ini belum ada satu pun club mancing. Tapi karena aktifitasnya yang cukup sibuk, sampai saat ini belum terbentuk juga club mancing itu. Dia mengatakan, “waduh repot mana mau ngurus kerjaan mana mau ngurus club, mending saya sebagai regu penggembira ajah, kalau mancing tinggal kontak sana dan sini kabarin teman-teman yang mungkin mau dan sempat ikut trip mancing”.

Dia menceritakan sedikit pengalaman mancing yang tidak akan pernah dilupakannya yaitu pada saat mancing di Yogyakarta. Rock Fishing di pesisir pantai selatan (gunung kidul dan sekitarnya) yang merupakan tempat paling extreme yang mempunyai tingkat resiko tinggi karena karang-karang yang sangat tajam sudah menanti dan sangat menguras tenaga tentunya. Tapi hal itulah yang membuat suasana tetap gembira meskipun tidak ada strike, katanya. Dia juga menambahkan, daerah sekitar perbatasan PNG (banyak ikan ukuran monster, disini sering terjadi hookup dan putus/mata kail bengkok, bahkan ketika menggunakan heavy tackle (senar PE8 juga banyak KO disini (putus-tus)), apalagi medium tackle ke bawah).

BIODATA

Nama
Pekerjaan
Alamat
Member Sejak
: Oktama Tija
: Swasta IT
: Jl. Gerilyawan No.42 Jayapura
: 07 Agustus 2006

 

Artikel Lainnya :