5 Penyakit Yang Sering Diidap Wanita

Antisipasi 5 penyakit ini demi kualitas hidup yang lebih baik
Saat kita mendengar kata ‘penyakit’ pasti energi negatif mengumpul di dalam kepala. Padahal sebenarnya kita perlu mengetahui penyakit-penyakit apa saja yang kerap diidap oleh wanita agar mengetahui cara mencegahnya. Dan khusus bagi wanita, Webmd meneliti ada 5 penyakit yang mengganggu kualitas hidup wanita. Penyakit itu adalah serangan jantung, kanker payudara, osteoporosis, depresi, dan penyakit auto imun.

Jangan langsung mengerutkan dahi melihat hasil penelitian tersebut, mari kenali satu-satu dan pahami cara sehat yang kita bisa lakukan untuk menghindarinya. Jadikan informasi ini juga sebagai modal mengenali ‘bahasa tubuh’ untuk memberi tahu pada kita ada masalah yang harus segera ditangani bersama dokter ahli.

“Pada saat kita mengerti bagaimana tubuh ‘berbicara’, itu artinya kita bertanggung jawab pada tubuh kita sendiri,” ucap Saralyn Mark, MD., Senior Medical Advisor dari Office on Women’s Health di Departemen of Health and Human Service and the National Aeronautics and Space Administration (NASA).

1. Serangan jantung
Sebenarnya, bagi wanita dan pria, serangan jantung adalah penyakit yang harus diantisipasi. Tapi dibanding pria, wanita biasanya tidak terdeteksi mengalami masalah pada jantungnya. “Sebab, gejalanya pada wanita cenderung sangat tidak dikenali, baik oleh kita sendiri maupun oleh dokter ahli,” Mark coba menjelaskan.

Plus, wanita memiliki kecenderungan untuk mengabaikan rasa sakit yang dirasakan tubuhnya. Misalnya saat kita merasakan nyeri dada, kita menganggapnya hanya sekadar keletihan biasa. Baru sadar memeriksakan diri ke dokter ketika nyeri dada terasa semakin sering yang diikuti dengan nyeri pundak, mual, muntah, dan sulit bernafas.

Penyebab penyakit ini, menurut American Heart Association, adalah:
• Faktor usia
• Genetik
• Merokok
• Kolesterol tinggi
• Tekanan darah tinggi
• Kurang olahraga
• Obesitas
• Diabetes

“Biasanya rasa nyeri dada yang dialami wanita akan lebih sakit dibanding pria, itu mengapa seharusnya bisa menjadi pertanda yang jelas. Hanya saja, wanita sering mengabaikan rasa sakit itu,” papar Gregory Burke, MD., profesor dan ketua Departement of Public Health Science dari Wake Forest University School of Medicine. “Itu mengapa, sekali merasa nyeri dada yang hebat, sebaiknya langsung memeriksakan diri ke dokter,” Burke menegaskan. Dan untuk memperkecil risiko ini, kuncinya menurut Burke adalah merubah gaya hidup termasuk makan sehat serta rutin berolahraga.

2. Kanker Payudara
Ini adalah kanker yang paling sering dialami wanita, setelah kanker serviks. Hal lain yang juga membuat penanganan kanker payudara menjadi lebih berat adalah reaksi yang diberikan wanita ketika mendengar diagnose kanker payudara dari dokter. Kebanyakan wanita akan menjadi takut dan memilih untuk melakukan pengobatan alternatif yang sering kali membuat pengobatannya berhenti begitu kankernya dirasa bisa ditekan. Atau tindakan ekstrim yang juga mulai sering terlontar dari mereka yang didiagnosa kanker payudara adalah melakukan masektomi atau pengangkatan payudara.

Reaksi-reaksi ini membuat banyak wanita tidak mendapatkan pengobatan sesuai dengan kebutuhannya. “Penanganannya akan sangat tergantung pada stadium dan kondisi dari sel kankernya, jadi tidak bisa dipukul rata,” jelas Diane Helentjaris, MD., mantan kepala American Medical Women’s Association. “Dan ingat, kanker payudara semakin dini ditemukan akan bisa disembuhkan karena kanker bukan berarti harus berujung pada kematian,” Helentjaris coba mengingatkan.

Lalu apa saja yang menjadi faktor risiko kanker payudara?
• Genetik. Hampir 5-10 persen pengidap kanker adalah karena adanya riwayat kanker payudara dalam keluarga
• Menstruasi terlalu dini (sebelum usia 12 tahun) atau menopause terlalu cepat (rata-rata usia 55 tahun)
• Obesitas
• Terlalu banyak mengonsumsi alkohol

Melihat obesitas masuk dalam daftar faktor risiko di atas, Stephen F. Sener, MD., presiden American Cancer Society, menyarankan kita untuk mengendalikan berat badan tetap pada ukuran proporsional. “Rutin berolahraga, berhenti merokok, dan lakukan pemeriksaan payudara sendiri atau mammografi secara rutin”. Dan antisipasi ini tak hanya harus dimiliki oleh wanita yang memiliki riwayat kanker payudara dalam keluarganya, sebab kanker juga dipengaruhi oleh gaya hidup kita yang tak sehat.

3. Osteoporosis
“Ini adalah salah satu penyakit yang bisa kita cegah!” Mark menegaskan. “Kebiasaan yang kita punya semasa remaja hingga lanjut usia akan sangat memengaruhi status sehat kita, termasuk kekuatan tulang kita,” Mark menambahkan. Khusus untuk tulang, tubuh kita akan secara optimal membentuk massa tulang hingga usia 30 tahun. Setelah itu, pembentukan tulang akan terhenti dan fokus pada perawatan tulang. Plus, tulang akan memperbaiki dirinya sendiri. Hanya saja mereka butuh perangkat untuk membantu fungsi perbaikan, yaitu stok kalsium yang cukup dan tubuh yang lentur.

Apa saja yang menjadi faktor risiko osteoporosis?
• Hormon estrogen yang menurun karena ketidakseimbangan hormon dalam tubuh atau karena menopause.
• Asupan kalsium dan vitamin D yang kurang.
• Merokok.
• Minum alkohol.
• Tidak rutin berolahraga.

Yang dapat kita lakukan untuk terhindar dari osteoporosis adalah menabung kalsium. Dan tabungan ini diisi dengan asupan kalsium yang cukup dari susu, keju, yogurt, brokoli, sawi, atau ikan-ikanan. Setelah itu lakukan olahraga agar penyerapan kalsium maksimal dan lengkapi dengan berjemur pada waktu pagi (sebelum pukul 10 pagi). Sinar matahari akan membantu tubuh mengubah pre vitamin D yang kita dapat dari makanan menjadi vitamin D utuh.

4. Depresi
Depresi lebih sering dialami oleh wanita ketimbang laki-laki. Ini terlihat dari survei yang dilakukan National Institute of Mental Health yang mengungkapkan, 12 juta wanita mengalami depresi, sedangkan pria hanya 6 juta orang.

Menurut Dorree Lynn, PhD., pada dasarnya wanita butuh teman untuk bercerita atau curhat. “Sebab wanita lebih ekspresif dan memiliki teman untuk bercerita akan meringankan beban, plus membuatnya sadar bahwa dirinya tak sendirian,” ucap Lynn yang juga menulis buku Getting Sane Without Going Crazy.

Hal lain yang juga sering memicu depresi pada wanita adalah perubahan hormone saat menstruasi, hamil, dan menopause. Dan hal lain yang juga berkontribusi pada munculnya episode depresi pada wanita adalah :
• Memiliki riwayat depresi pada keluarga.
• Mengalami penyakit kronis.
• Mengalami masalah dalam rumah tangga.
• Sering mengalami kekerasan fisik dan psikologis.
• Tidak bisa melupakan trauma masa kecil.
• Mengalami masalah pada konsep diri.

Hal yang paling sederhana disarankan Lynn kepada wanita untuk tidur cukup. Sebab saat tubuh mendapatkan istirahat yang dibutuhkan, maka produksi hormon stres bisa ditekan. Lalu, lakukan juga kegiatan-kegiatan yang membuat diri kita berinteraksi aktif dengan orang lain.

Sebab Lynn yakin, ketika kita memiliki interaksi yang baik dengan sekitar kita maka kita akan merasa banyak orang yang peduli dan menganggap keberadaan kita penting. Dan secara statistik, orang yang dapat berinteraksi baik dengan sekitarnya, terbukti bisa mengatasi stress dengan cepat.

5. Penyakit autoimun
Ini adalah penyakit yang membuat sistem kekebalan tubuh kita justru menyerang diri sendiri. Sebabnya, sistem kekebalan tubuh kita tak dapat mengenali mana benda asing (virus atau bakteri) yang sifatnya merugikan dan mana yang tidak. Alhasil yang seharusnya berfungsi membantu tubuh melumpuhkan berbagai sumber penyakit, justu menyerang tubuh kita sendiri. Setidaknya ada lebih dari 80 penyakit yang masuk dari kategori ini. Dan yang selama ini sudah banyak terdeteksi adalah lupus, multiple sclerosis, dan diabetes tipe 1. Berdasarkan data yang dikumpulkan American Autoimune Related Disease Association (AARDA), setidaknya 75 persen dari penyakit autoimun ini diidap oleh wanita.

“Sebenarnya, sampai saat ini belum diketahui apa yang menyebabkan sistem tubuh tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Tapi factor genetik, hormonal, dan lingkungan, dicurigai memberikan kontribusi untuk hadirnya penyakit ini,” ucap Helentjaris. Mengingat penyakit-penyakit autoimun sering kali tidak disertai dengan gejala-gejala yang spesifik dan banyak dokter yang belum memahaminya, Helentjaris menyarankan, agar kita meminta dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap tubuh, darah, serta hormon kita. “Jika kita merasa dokter yang kita temui tidak serius memeriksa atau menanggapi keluhan kita, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter lain,” Helentjaris menegaskan.

Jadikan 5 panduan mengenali berbagai penyakit yang sering diidap wanita di atas, sebagai ‘alarm’ bagi kita untuk menangkap berbagai masalah dalam tubuh. Kenali gejalanya dan pahami bagaimana seharusnya kita bisa terbebas dari penyakit-penyakit tersebut.

(Prevention Indonesia).