Bahaya Obesitas Saat Balita

Banyak orang tua merasa senang memiliki balita bertubuh gemuk. Apalagi melihat  tingkah dan polah anak yang ceria, lugu dan penuh rasa ingin tahu tentu mengundang rasa gemas. Ketika Melihat buah hati tidak mengalami kesulitan untuk makan, alangkah senangnya para orang tua. Bahkan tidak menutup kemungkinan putera-puteri anda memiliki frekuensi dan porsi makan yang berlebih, dapat membuat tubuh mereka lebih gemuk ketimbang anak sebayanya. Mereka beranggapan, anak yang gemuk berarti sehat. Para orang tua pun membiarkan sang buah hatinya, karena beranggapan anaknya akan berubah menjadi kurus saat dewasa. Anak gemuk tentu menggemaskan, namun menyimpan potensi obesitas yang rentan terhadap berbagai komplikasi penyakit.

Gemuk dalam batas wajar alias ukuran Indeks Massa Tubuh yang normal tidak masalah. Namun, bila si kecil sudah melebihi nilai Batas Index di atas 25- 30, kondisi itu yang patut dicermati orangtuanya. Banyak penelitian menunjukkan, balita yang mengalami kegemukan atau obesitas memiliki 2/3 atau lebih dari 66 persen kecenderungannya untuk tetap terkena obesitas meski sudah beranjak dewasa. Kegemukan dan obesitas erat kaitannya dengan kelebihan gizi.

Menurut Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Prof. Hardinsyah, para orang tua patut mewaspadai masalah kegemukan dan obesitas pada usia dini, karena hal ini akan menimbulkan efek buruk bagi anak untuk jangka panjang . Di Indonesia, permasalahan kelebihan gizi makin meningkat dalam kurun waktu beberapa waktu terakhir. Survei nasional gizi mikro menunjukkan, masalah anak balita kelebihan gizi sejak tahun 2007 hingga 2010 meningkat dari 12,3 persen menjadi 14 persen. Hal ini berkebalikan dengan angka balita yang kekurangan gizi menurun dari 18 persen ke 17 persen.

Masalah ini harus segera diatasi karena kelebihan gizi, terutama pada anak usia dini dapat mengakibatkan penyakit-penyakit yang tidak menular seperti penyumbatan pembuluh darah di otak yang memicu stroke, penyumbatan pembuluh darah di jantung dan diabetes. Dampak buruk bila dibiarkan banyak sekali. Pada janin dan anak yang berusia kurang dari 2 tahun antara lain ukuran dan komposisi tubuh, termasuk otak dan organ internal tidak seimbang, gangguan fisiologi dan metabolik. Serta dampak buruk anak dan dewasa antara lain kemampuan kognitif buruk, obesitas, rentan infeksi, dan penyakit degeneratif.

Diperlukan edukasi dini bagi orangtua agar dapat memberikan gizi seimbang pada anak bahkan sejak dalam tahap mempersiapkan kehamilan. Seribu hari pertama adalah masa keemasan bagi anak. Dimulai dari masih dalam kandungan hingga berusia 2 tahun. Gizi seimbang merupakan asupan gizi yang dapat memenuhi kebutuhan gizi dan dapat mencegah gizi kurang dan gizi berlebih. Maka penting bagi orang tua untuk mengerti bagaimana memberikan gizi seimbang untuk anak, bukan hanya sekedar terus menerus memberikan gizi tanpa mengetahui anaknya sudah kelebihan gizi.

Proses ini memang terbilang tidak mudah, karena dibutuhkan kesabaran dari proses yang memakan waktu. Oleh karena itu, bimbinglah dan atur pola makan anak anda dengan makanan sehat dan seimbang gizi sesuai porsi usia anak. Prinsip dasar membantu buah hati anda terlepas dari problem obesitas, adalah memberikan asupan makanan sehat seimbang dan meningkatkan jumlah aktivitas fisiknya. Sebagai orangtua, anda bisa memutuskan makanan apa yang diolah dan dikonsumsi anak. Berikut saya sharing beberapa tipsnya :

  • Libatkan anak anda dalam memilih bahan makanan saat berbelanja. Ajaklah anak anda untuk memilih buah dan sayur sebagai bahan hidangan, serta camilan yang rendah lemak. Hindari pemilihan makanan yang mengandung banyak gula (atau bahkan pemanis buatan)  dan perhatikan kandungan nutrisi yang tertera pada camilan tersebut.
  • Sempatkan waktu anda untuk makan bersama si anak di meja makan setiap harinya. Saling bercerita pengalaman hari ini, informasi terbaru, dan bertanya pada anak tentang apa yang dialami hari ini di sekolah maupun di rumah, akan menyenangkan. Selain membuat suasana semakin hangat dan komunikatif, makan bersama bisa membantu anak anda untuk makan lebih cepat dan lebih kenyang, karena focus pada bincang-bincang tersebut.
  • Jangan terlalu sering / membiasakan untuk mengkonsumsi makanan fast food, karena kalorinya sangat tinggi yang berakibat tidak baik untuk kesehatan.
  • Sedangkan untuk membantu meningkatkan aktivitas fisik anak, sempatkan waktu anda dalam seminggu untuk berolahraga bersama; berenang bersama misalnya. Selain itu, di hari Senin-Jumat, batasi kegiatan menonton TV si anak paling tidak sehari maksimal dua jam. Lalu sebagai gantinya berikan kesempatan si anak untuk memilih aktivitas luar ruang  yang menyenangkan, misalnya memberikan pelatihan satu olagraga untuk ditekuninya.

Beberapa cara ini niscaya, dapat membantu anak anda keluar dari problem obesitas. Kuncinya adalah memberikan porsi makan yang sesuai usianya, makanan sehat gizi seimbang dan melatih gerak tubuhnya. Semakin banyak aktifitas bermainnya, tubuhnya akan semakin membakar kalori.