Sehatkah Kehamilan Anda?

Diagnosa penyakit melalui kondisi tubuh selama masa kehamilan.
Jika kita berpikir tubuh tidak pernah ‘berbicara’ untuk memberi tahu ada masalah dalam tubuh kita, sebaiknya kita harus mengubah persepsi tersebut. Sebab banyak penelitian membuktikan, tubuh selalu menyampaikan berbagai masalahnya pada kita. Bahkan pada masa kehamilan pun, ada gejala-gejala tertentu yang muncul yang bisa menjadi alarm bagi kita.

Misalnya saja, kenaikan berat badan yang berlebihan pada saat kehamilan bisa jadi adalah indikasi terjadinya diabetes. “Tapi tak perlu kuatir, sebab berbagai gejala yang muncul saat kehamilan masih dapat kita cegah untuk berubah menjadi penyakit. Kita hanya perlu mengenalinya dari awal,” ucap Hyagriv N.Shimhan, MD, direktur maternal-fetal dari University of Pittsburgh Medical Center.

Ingin tahu bagaimana tubuh berbicara jika ada masalah pada masa kehamilan? Inilah daftar lengkapnya:

1. Jika kita mengalami tekanan darah tinggi atau preeclampsia pada masa kehamilan, risiko yang harus diantisipasi adalah gangguan jantung.
Ibu hamil yang mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi, berisiko mengalami gangguan jantung 3 tahun lebih dini dibanding ibu yang normal. Ini ditemukan pada penelitian yang dilakukan di Chili.
Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk menekan risikonya, setelah melahirkan rutinlah berolah raga. Tujuannya adalah untuk menjaga berat badan tetap proporsional, plus mencegah proses pembentukan lemak. Jangan lupa untuk secara rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah dan kolesterol dalam tubuh.

2. Kenaikan berat badan berlebih selama masa kehamilan, berisiko untuk mengalami diabetes tipe-2.
Pada saat hamil, kita pasti akan mengalami kenaikan berat badan. Wajar saja, bayi yang berada dalam rahim kita dan proses menyusui, membuat berat tubuh harus bertambah beberapa kilogram.

Tapi sebenarnya, ada ukuran ideal untuk pertambahan berat badan tersebut. Pada perempuan yang memiliki bobot kurang sebelum masa kehamilan, kenaikan berat badan yang ideal adalah 14-20 kg. Dan pada perempuan yang bobotnya normal, sebelum masa kehamilan maka berat badannya harus bertambah sebanyak 12-17 kg.

Jika bobot yang bertambah di luar dari itu, penelitian membuktikan kita akan berisiko mengalami diabetes tipe-2 setelah satu dekade kehamilan. Sebab kenaikan berat badan yang berlebih di masa kehamilan adalah indikasi dari terjadinya diabetes gestasional yang merupakan melonjaknya gula darah karena kehamilan. Oleh karena itu, ibu hamil yang mengalami diabetes gestasional disarankan untuk rutin memeriksa kadar gula darahnya setiap tahun sambil menjaga pola makan.

3. Mengalami radang gusi, beresiko untuk mengalami gangguan periodontal.
Hampir semua perempuan hamil mengalami radang gusi yang biasanya ditandai dengan gusi bengkak dan berdarah. Semua ini terjadi karena perubahan hormon yang kita alami selama kehamilan, jelas Susan Karabin, DDS, mantan ketua American Academy of Periodontology. “Biasanya, masalah ini akan berhenti dengan sendirinya setelah melahirkan dan menyusui,” Karabin menambahkan.

Tapi yang juga menjadi masalah, Karabin menyebutkan, belakangan banyak perempuan yang sudah memiliki gangguan pada kesehatan mulut dan giginya (gangguan periodontal), jauh sebelum mereka hamil. Dan perubahan hormon saat hamil akan memperburuk masalah mulut serta gigi.

Salah satu risiko yang bisa saja terjadi adalah, Alzheimer dan serangan jantung. Itu mengapa, Karabin menyarankan, agar kita menambah jadwal kunjungan ke dokter gigi. Dengan begitu, segala masalah mulut dan gigi bisa ditemukan lebih cepat. “Plus perawatan gusi dan akar gigi bisa dilakukan lebih intensif.”

4. Proses persalinan yang panjang, bisa membuat ibu mengalami inkontinensia.
Inkontinensia atau ketidakmampuan mengendalikan urine yang keluar, biasa dialami oleh perempuan yang baru melahirkan. Tapi penelitian mengungkapkan, perempuan yang proses mengejan saat melahirkan lebih dari 2 jam, akan mengganggu fungsi kerja kandung kemih. “Sebab saraf-saraf yang ada pada kandung kemih ikut tertekan,” jelas urogenokologis Lauri Romanzi, MD., New York Presbyterian Hospital-Weill Cornell Medical College, New York.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari inkontinensia? “Lakukanlah senam Kegel, setelah melahirkan!” jawab Romanzi dengan tegas. Senam ini akan mengembalikan kelenturan otot-otot disekitar kandung kemih dan panggul. “Jadi tak hanya membuat kita terbebas dari inkontinensia tapi juga membuat hubungan seks kita lebih berkualitas”. (Sumber: preventionindonesia)

.

1 Response

  1. Rhinda says:

    ketika dia sudah mennrcaeakan sesuatu yang bakal ‘pasti’ dari kacamata manusia itu, dia justru makin resah, makin ‘ilfil’ katanya, merasa ga jelas dan rasa tak percaya bahwa sebentar lagi statusnya akan berbeda yah kayaknya semua wanita akan merasakan hal itu,, dan bukan hanya wanita, laki2 pun akan merasakan hal yang sama, aku menyebutnya sebagai usaha maksimum dari syaitan untuk menggagalkan manusia menjalankan perintah ALLAH, dan itu dialami juga oleh aku dan mantan pacarku (istriku) ..