Ikan Purba Tertangkap di Minahasa

AMURANG – Pasar Tumpaan, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, dihebohkan penemuan ikan yang telah punah sekitar 65 juta tahun yang lalu. Ikan purba atau biasa disebut […]

AMURANG – Pasar Tumpaan, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, dihebohkan penemuan ikan yang telah punah sekitar 65 juta tahun yang lalu.

Ikan purba atau biasa disebut Raja Laut (Coelacanth) itu, ditemukan oleh seorang nelayan bernama Rafles Tampi, Jumat (22/7/2011).

Rafles menuturkan, Jumat sekitar pukul 05.00 Wita, dia berencana pulang seusai melaut di perairan Popareng. Tiba-tiba, ada seekor ikan besar berenang di permukaan air di dekat perahunya.

Rafles pun langsung menangkap ikan itu. Namun, ia merasa terkejut saat melihat bentuk ikan itu. Wajahnya aneh dan memiliki lima sirip seperti ekor, dan bersisik kasar.

Karena takut, Rafles melepas ikan itu ke laut. “Karena aneh bentuknya, saya lepas lagi,” ujar Rafles.

Setelah dilepas, ikan itu tetap mengambang di permukaan air, tak mau menyelam. Karena penasaran, ia mengarahkan kembali perahunya mendekati ikan tersebut, dan menangkap kembali. Beberapa menit kemudian ikan itu mati.

“Setelah itu saya bawa ke Pasar Tumpaan, warga maupun pedagang lainnya yang juga baru kali ini melihat, langsung heboh,” ujarnya.

Jefri Lamia, warga setempat yang mengetahui jika ikan tersebut adalah Raja Laut yang dilindungi menyarankan agar jangan dahulu dipotong, tetapi diberitahukan dahulu ke Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Minsel.

Setelah diinformasikan warga, Kepala DKP Minsel, Arifin Kiay Demak pun langsung mendatangi Pasar Ikan Tumpaan dan mendapati jika ikan tersebut sudah mati.

Ia lalu membawanya dan menyimpan di lemari pendingin yang ada di Kantor DKP. Setelah ditimbang ikan tersebut memiliki berat 13,8 kg dan panjang 105 cm.

“Ini memang ikan Raja Laut atau Coelacanth, bahasa latinnya Latimeria manadosiensis,” ujarnya.

Ikan Coelacanth yang ditemukan Rafles selanjutnya akan dijadikan bahan penelitian oleh DKP Minsel dan Sulut. “Jadi memang sengaja kami bekukan di frezer agar awet untuk diteliti,” ujar Arifin.

Ikan bersisik dan berwarna coklat itu akan segera diteliti untuk mencari tahu bagaimana perkembangbiakannya di Sulut, khususnya di Minsel.

“Ternyata di perairan Minsel ada didapati, yakni di laut Popareng. Ini akan diteliti lagi siapa tahu masih ada banyak,” ujarnya.

Ikan Coelacanth diperkirakan sudah punah sejak akhir masa Cretaceous, yakni 65 juta tahun yang lalu, sampai sebuah spesimen ditemukan di timur Afrika Selatan, di perairan sungai Chalumna tahun 1938.

Pada tahun 1998, seekor ikan Raja Laut pernah tertangkap jaring nelayan di perairan Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara.

Sampai saat ini, telah ada dua spesies Coelacanth yang ditemukan yaitu Coelacanth Komoro (Latimeria Chalumnae) dan Coelacanth Sulawesi (Latimeria Menadoensis).

(Tribunkalteng)

Artikel Terkait: