Masjid Al-Alam, Cilincing

Masjid Al-Alam, Cilincing

Banyak orang tidak tahu jika Masjid Al-Alam yang berlokasi di Pasar Ikan, Cilincing, Jakarta Utara, merupakan warisan Sunan Gunung Jati yang dibangun pada 1525 Masehi atau sekitar abad ke-15. Bahkan, dari masjid kecil inilah perlawanan terhadap penjajah Portugis di Batavia dilakukan

Karena merupakan warisan salah satu tokoh sembilan wali ini, kutipan wasiat Sang Sunan terpampang di papan bertuliskan, “Wasiat Sunan Gunung Jati : Ingsun Titip Tajug Lan Fakir Miskin” (Saya Titipkan Masjid dan Fakir Miskin). Untuk menyelamatkan tempat bersejarah ini, Pemprov DKI sendiri sejak 10 Januari 1972 saat masih dipimpin Gubernur Ali Sadikin, telah menetapkan tempat itu sebagai bangunan cagar budaya.

Jauh sebelum masjid ini direhabilitasi, bangunan aslinya hanya berukuran 10×10 meter persegi dengan menggunakan konstruksi kayu. Sedangkan dinding dan plafonnya terbuat dari bambu. Adapun atapnya ditopang 4 buah tiang kayu (tiang soko guru). Namun, pada tahun 1989 bangunan masjid diperluas dengan menambah serambi depan dan serambi utara. Selain itu dibangun tempat wudhu dan toilet pada sisi selatan.

Masjid Al-Alam dibangun oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. “Banyak orang yang nggak tau tahun berapa bangunan masjid ini didirikan. Pemerintah menetapkan tahun pembangunan masjid ini pada 22 Juni 1527 bersamaan dengan ulang tahun Jakarta.

Awal didirikannya masjid Al-Alam, Cilincing, berawal dari direbutnya Sunda Kelapa oleh Portugis pada tahun 1511 Masehi. Namun, demi keutuhan bumi pertiwi dan kelangsungan syiar Islam di Sunda Kelapa maka komunitas Wali Songo mengutus Sunan Gunung Jati untuk merebut kembali Sunda Kelapa dari tangan pasukan Portugis tersebut.

Sebelum mengusir Portugis, ditambahkan Tabroni, Sunan Gunung Jati membuat tempat peristirahatan dan peribadatan, sekaligus untuk konsolidasi taktik peperangan. Salah satunya dengan mendirikan dua masjid sekaligus, yaitu Masjid Al-Alam di Pasar Ikan Cilincing dan Masjid Al-Alam di Marunda Pulo sekitar tahun 1527, yang belakangan masjid yang terakhir dikenal dengan sebutan Masjid Si Pitung. Berkat taktik itu pula, Portugis berhasil diusir dari Sunda Kelapa. Maka saat itu disebut sebagai hari jadi kota Jakarta dan berdirinya Masjid Jami Al-Alam Cilincing. (adeadiyatna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>